Idenusantara.com - Buku berjudul "Hantu Tuan Kebun" karya kolaboratif Budi Baskoro dan Aldo Sallis telah resmi di luncurkan pada Kamis, 24 April 2025.
Peluncuran buku "Hantu Tuan Kebun" digelar di Swiss-Belhotel Danum, Palangka Raya yang dihadiri oleh berbagai unsur, termasuk lembaga pemerintah, akademisi, dosen, dan mahasiswa dari dua perguruan tinggi di Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
Buku yang ditulis dengan gaya jurnalistik ini didedikasikan untuk mereka yang haknya dirampas di sekitar perkebunan sawit. Sekaligus pesan untuk semua tuan kebun, agar melihat persoalan dengan pikiran terbuka, dan rasakan dengan hati paling dalam.
Baca Juga: Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat Terima Dua Buku Karya Anak NTT
Buku karya dua jurnalis lingkungan, Aldo Sallis dan Budi Baskoro, ini menggambarkan bagaimana perjuangan masyarakat lokal yang haknya dirampas oleh perusahaan sawit selama tiga dekade.
Selain itu, buku ini juga mengangkat kisah konflik berkepanjangan antara masyarakat dan perusahaan perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah.
Penulis buku "Hantu Tuan Kebun", Budi Baskoro mengatakan bahwa peluncuran ini tidak hanya bertujuan memperkenalkan isi buku, tetapi juga membuka ruang diskusi kritis mengenai masa depan hutan Kalimantan dan nasib masyarakat adat yang hidup berdampingan dengan kawasan perkebunan.
“Kami percaya, semakin banyak orang yang membaca buku ini, semakin terbuka pula pandangan terhadap persoalan yang terjadi. Karena pada dasarnya, setiap pembangunan ditujukan untuk kebaikan, namun dalam praktiknya kami menemukan banyak pelanggaran dan perampasan hak,” ujarnya.
Baca Juga: Mahasiswa UNADRI Hadir Kuliah Umum dan Bincang Buku ALDERA di Gedung Graha Cendana
Ia juga berharap agar pemerintah, khususnya Presiden, dapat menghidupkan kembali satuan tugas (satgas) yang bertugas mengidentifikasi kawasan perkebunan yang masuk ke wilayah Kalimantan secara tidak sah.
“Yang jelas, sebagai jurnalis kami tetap skeptis. Jangan-jangan kebijakan ini hanya semacam ‘take over’ saja atas penguasaan lahan dan sumber daya alam di antara para Tuan Kebun semata,” ungkap Budi.
Senada dengan Budi, Aldo Sallis, penulis lainnya mengungkapkan, dalam pembangunan hendaknya tidak ada warga yang tertinggal di belakang.
Buku ini, kata Aldo, menunjukkan cerita dan kisah haru mereka yang berkonflik dengan perkebunan sawit.
“Apapun sektornya, pembangunan itu untuk masyarakat jadi tidak boleh ada yang ditinggal di belakang, semua harus bisa merasakan kesejahteraan dari kehadiran investasi,” katanya.
Artikel Terkait
Sekolah di Kota Kupang Wajibkan Siswa Membeli Buku LKS, Orang Tua Meragukan Materi LKS
Mahasiswa UNADRI Hadir Kuliah Umum dan Bincang Buku ALDERA di Gedung Graha Cendana
Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat Terima Dua Buku Karya Anak NTT