Baca Juga: Resmi, Rektor IFTK Ledalero Dr. Otto Gusti Madung Dapat Gelar Profesor dan Guru Besar
Ia juga menyoroti tantangan serius yang masih dihadapi daerahnya dalam bidang pendidikan dasar, terutama terkait kemampuan literasi dan numerasi.
"Karena berdasarkan data, Nusa Tenggara Timur tercatat sebagai salah satu provinsi dengan capaian terendah dalam tiga mata pelajaran fundamental seperti Bahasa Inggris, Matematika, dan Bahasa Indonesia. Itulah sebabnya kita perlu meningkatkan literasi dan numerasi dasar di Nusa Tenggara Timur," tegasnya.
Ajang Puteri Indonesia sendiri dikenal sebagai kompetisi bergengsi yang tidak hanya menilai penampilan, tetapi juga kecerdasan, karakter, kemampuan komunikasi, serta kepedulian sosial para pesertanya. Dalam audisi tahun ini, tiga peserta asal Nusa Tenggara Timur turut ambil bagian, yakni Melisa Foris, Ayu Munandar, dan Cintya Tegok, yang masing-masing membawa semangat untuk mengharumkan nama daerah.
Puteri Indonesia 2026 merupakan edisi ke-29 sejak pertama kali diselenggarakan oleh Yayasan Puteri Indonesia pada tahun 1992. Malam puncak ajang tersebut dijadwalkan berlangsung pada 24 April 2026 di Plenary Hall, Jakarta International Convention Center (JICC).
Keberhasilan Cintya Tegok menjadi Finalis Favorite dan lolos ke tahap kedua menjadi momentum penting yang menunjukkan bahwa perempuan muda Nusa Tenggara Timur memiliki potensi besar untuk bersaing di tingkat nasional. Kini, harapan masyarakat NTT tertuju pada dukungan voting publik yang akan menentukan langkah Cintya menuju panggung final, membawa nama daerahnya bersinar, sekaligus memperjuangkan misi besar peningkatan pendidikan dan literasi di NTT.
Artikel Terkait
Akhir Penantian yang Panjang, 991 Honorer Manggarai Resmi Menyandang Status PPPK Paruh Waktu
Nama Frans Sarong Dicatut Terkait Proyek, IKMR Kupang Bela dan Pasang Badan
Kisah Sukses Sunny Kamengmau: Dulu Tukang Kebun Sekarang Jadi Miliarder
Jajal Sirkuit Mandalika Pertama Kali Langsung Jatuh Cinta, Siapa yang Hadir Bareng Valentino Rossi?
Resmi, Rektor IFTK Ledalero Dr. Otto Gusti Madung Dapat Gelar Profesor dan Guru Besar
Lantaran Tak Mampu Beli Buku dan Pena, Bocah SD di Ngada Tewas Bunuh Diri
Tragedi Ngada; ”Yang Sering Tak Tertulis di Buku Pelajaran Kita"