Polwan Polres Manggarai: Pilar Empati dan Dedikasi di Tengah Keterbatasan

photo author
Dionisius Upartus Agat, Ide Nusantara
- Selasa, 1 Juli 2025 | 07:48 WIB
Jajaran Unit PPA Polres Manggarai
Jajaran Unit PPA Polres Manggarai

Kebutuhan kendaraan operasional standar pun belum terpenuhi, seringkali memaksa anggota menggunakan kendaraan pribadi untuk tugas lapangan.

Kendala bahasa dalam berkomunikasi dengan masyarakat yang memiliki tingkat pendidikan rendah atau penanganan korban dengan keterbelakangan mental juga memerlukan keahlian khusus dan kesabaran ekstra dari anggota, menambah kompleksitas tugas mereka.

Namun, di balik semua keterbatasan ini, sebuah kenyataan yang mengharukan muncul: semangat dan kecintaan Polwan Unit PPA terhadap pekerjaan mereka sama sekali tidak luntur; justru menguat dan menjadi bahan bakar pengabdian mereka.

Strategi "jemput bola" mereka yang proaktif, mendatangi korban di lokasi dengan peralatan lengkap bahkan seadanya, adalah bukti nyata dari komitmen tak tergoyahkan.

Ini menunjukkan bahwa mereka tidak menunggu masalah datang, tetapi aktif mencari dan menolong.

Dalam ruang yang serba terbatas, Polwan Unit PPA dengan kreatif berupaya menciptakan suasana nyaman bagi korban anak melalui permainan, menggambar, atau memberikan snack, serta penggunaan bahasa sederhana saat pemeriksaan.

Ini adalah wujud konkret dari empati mendalam, inisiatif, dan dedikasi pribadi mereka yang melampaui tuntutan dinas.

Mereka tidak hanya menjalankan tugas berdasarkan prosedur, tetapi juga menempatkan hati dalam setiap penanganan kasus, memahami bahwa setiap korban adalah prioritas yang harus diperjuangkan dengan segenap kemampuan.

Beban psikologis yang ditanggung Polwan karena berhadapan langsung dengan kasus-kasus traumatis, terutama yang melibatkan kekerasan seksual pada anak oleh orang-orang terdekat, merupakan aspek serius yang perlu perhatian.

Brigpol Priska Wea secara terbuka mengakui bahwa Unit PPA, dibandingkan unit Reskrim lainnya, sangat membutuhkan dukungan psikolog.

"Karena dalam penanganan itu kita butuh mental yang kuat, butuh perasaan yang tidak terpengaruh dengan korban yang mengalami," ungkapnya, menjelaskan betapa beratnya dampak emosional dari pekerjaan mereka.

Meskipun Polres Manggarai belum menyediakan fasilitas psikologis khusus secara internal, para Polwan mengelola dampak emosional secara mandiri, seperti melalui "healing" dengan refreshing setelah tugas lapangan, atau dengan belajar dari YouTube dan buku untuk menjaga kesehatan mental mereka agar tidak membawa dampak kasus ke ranah pribadi atau keluarga.

Kemandirian, ketangguhan mental, dan upaya proaktif menjaga diri ini adalah refleksi paling jujur dari kecintaan mereka pada pekerjaan dan tanggung jawab yang mereka emban untuk melindungi, menunjukkan bahwa pengabdian mereka adalah panggilan jiwa yang tulus.

Harapan ke Depan: Memperkuat Pilar Perlindungan Perempuan dan Anak

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Gordianus Jamat

Rekomendasi

Terkini

Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:17 WIB

Mampukah Wartawan Adil Sejak Dalam Pikiran?

Senin, 9 Februari 2026 | 21:53 WIB

Fenomena Istri Simpanan di Kalangan Pejabat Tinggi

Senin, 9 Februari 2026 | 07:29 WIB

Negara Gagal, Seorang Anak Memilih Bundir

Jumat, 6 Februari 2026 | 23:25 WIB

KERTAS TII MAMA RETI

Kamis, 5 Februari 2026 | 22:56 WIB
X