Pluralitas Kebangsaan, Merawat Persaudaraan Sejati dalam Semangat Nostra Aetate

photo author
Dionisius Upartus Agat, Ide Nusantara
- Jumat, 26 September 2025 | 12:18 WIB
Anastasia Susanti Jafar (Mahasiswa STIPAS St. Sirilus Ruteng)
Anastasia Susanti Jafar (Mahasiswa STIPAS St. Sirilus Ruteng)

Situasi ini semakin diperparah dengan maraknya penyebaran informasi menyesatkan di media sosial, yang sering kali menimbulkan prasangka buruk antar umat beragama.

Bila kondisi ini terus dibiarkan, keharmonisan yang menjadi cita-cita bangsa akan semakin sulit terwujud.

Dalam sejarah Indonesia membuktikan bahwa persatuan dalam keberagamanlah yang membuat bangsa ini kokoh.

Para pendiri bangsa menyadari bahwa tanpa semangat toleransi dan penghormatan terhadap keyakinan masing-masing, Indonesia tidak mungkin berdiri dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Maka dari itu, upaya membangun jalan damai harus terus diperkuat melalui pendidikan, teladan para pemimpin, serta dialog lintas iman yang jujur dan terbuka.

Selain itu, penting untuk menciptakan ruang perjumpaan yang sehat di tengah masyarakat.

Perjumpaan lintas keyakinan, seperti kegiatan gotong royong, diskusi bersama, atau aksi sosial kemanusiaan, dapat menjadi jembatan untuk mempererat persaudaraan.

Dengan demikian, rasa curiga dapat dikikis dan digantikan oleh kepercayaan serta penghargaan yang tulus.

Masyarakat yang terbiasa bekerja sama meskipun berbeda keyakinan akan lebih siap menghadapi tantangan dan menjaga persatuan bangsa.

Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan masalah perbedaan keyakinan semakin sulit diatasi yaitu:

Pertama, kurangnya pemahaman yang mendalam tentang ajaran agama sendiri maupun agama orang lain.

Banyak orang hanya memahami agamanya secara dangkal, sehingga mudah menaruh curiga dan menolak perbedaan.

Padahal, hampir semua agama pada dasarnya mengajarkan kebaikan, cinta kasih, dan perdamaian.

Ketika pemahaman yang sempit bercampur dengan emosi, maka mudah sekali timbul prasangka buruk dan sikap intoleran.

Kedua, faktor ekonomi dan politik juga kerap memperkeruh keadaan. Tidak jarang perbedaan keyakinan dipolitisasi demi kepentingan kelompok tertentu.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dionisius Upartus Agat

Tags

Rekomendasi

Terkini

Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:17 WIB

Mampukah Wartawan Adil Sejak Dalam Pikiran?

Senin, 9 Februari 2026 | 21:53 WIB

Fenomena Istri Simpanan di Kalangan Pejabat Tinggi

Senin, 9 Februari 2026 | 07:29 WIB

Negara Gagal, Seorang Anak Memilih Bundir

Jumat, 6 Februari 2026 | 23:25 WIB

KERTAS TII MAMA RETI

Kamis, 5 Februari 2026 | 22:56 WIB
X