Pluralitas Kebangsaan, Merawat Persaudaraan Sejati dalam Semangat Nostra Aetate

photo author
Dionisius Upartus Agat, Ide Nusantara
- Jumat, 26 September 2025 | 12:18 WIB
Anastasia Susanti Jafar (Mahasiswa STIPAS St. Sirilus Ruteng)
Anastasia Susanti Jafar (Mahasiswa STIPAS St. Sirilus Ruteng)

Isu agama dijadikan alat untuk memperoleh dukungan, memecah belah masyarakat, atau menyingkirkan pihak yang dianggap lawan.

Kondisi ini menimbulkan konflik yang seolah-olah bersumber dari perbedaan keyakinan, padahal sebenarnya berakar pada kepentingan praktis.

Situasi seperti ini tentu sangat berbahaya karena dapat merusak rasa persaudaraan yang sudah lama terjalin.

Ada beberapa contoh nyata di Indonesia yang menunjukkan bagaimana perbedaan keyakinan dapat memicu konflik sosial.

Contoh kasus adalah penistaan agama di Jakarta pada tahun 2016 yang melibatkan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Pernyataan Ahok yang dianggap menyinggung umat Islam memicu gelombang demonstrasi besar-besaran yang dikenal dengan sebutan Aksi 212.

Isu ini tidak hanya menimbulkan perdebatan sengit antar umat beragama, tetapi juga memperlihatkan bagaimana agama bisa dijadikan alat politik.

Situasi tersebut menimbulkan polarisasi di masyarakat, bahkan merusak hubungan antar warga yang sebelumnya rukun.

Padahal, jika dipahami dengan bijak, perbedaan keyakinan semestinya tidak perlu menjadi sumber pertentangan, melainkan harus dikelola dengan dialog dan saling menghargai.

Dalam ajaran Gereja Katolik, terdapat sebuah dokumen penting yang secara khusus membahas tentang perbedaan keyakinan, yaitu Nostra Aetate.

Dokumen ini lahir pada Konsili Vatikan II (1965) dan menjadi landasan Gereja dalam memandang hubungan dengan agama-agama non-Kristen.

Nostra Aetate menekankan bahwa meskipun umat manusia menganut berbagai macam agama, pada dasarnya semua orang memiliki pertanyaan yang sama tentang makna hidup, tujuan manusia, serta hubungan dengan Yang Ilahi.

Gereja mengajak umat Katolik untuk menghormati kebenaran yang ada dalam agama lain, karena cahaya kebenaran dapat ditemukan di berbagai tradisi keagamaan.

Nostra Aetate juga menegaskan bahwa perbedaan keyakinan bukanlah alasan untuk menimbulkan kebencian atau permusuhan, melainkan kesempatan untuk membangun dialog dan kerja sama.

Dalam dokumen ini, Gereja mengutuk segala bentuk diskriminasi atau permusuhan yang didasarkan pada agama, ras, atau asal-usul budaya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dionisius Upartus Agat

Tags

Rekomendasi

Terkini

Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:17 WIB

Mampukah Wartawan Adil Sejak Dalam Pikiran?

Senin, 9 Februari 2026 | 21:53 WIB

Fenomena Istri Simpanan di Kalangan Pejabat Tinggi

Senin, 9 Februari 2026 | 07:29 WIB

Negara Gagal, Seorang Anak Memilih Bundir

Jumat, 6 Februari 2026 | 23:25 WIB

KERTAS TII MAMA RETI

Kamis, 5 Februari 2026 | 22:56 WIB
X