Baca Juga: Sang Eksekutor Lintas Rezim: Membedah Posisi Sentral Bahlil Lahadalia di Pusaran Kekuasaan
Korban bencana seolah di-gaslighting oleh negaranya sendiri. Mereka dipaksa percaya bahwa penderitaan mereka sudah berakhir, padahal kaki mereka masih basah dan perut mereka masih lapar. Mereka dibiarkan berjuang sendirian dalam sunyi, karena di mata negara, masalah mereka sudah dianggap selesai.
Penutup: Turunlah dari Menara Gading
Bencana tidak selesai saat air surut di halaman kantor bupati. Bencana baru benar-benar selesai saat warga terakhir sudah bisa tidur nyenyak di rumahnya sendiri tanpa rasa takut.
Kepada para pejabat di Jakarta: Berhentilah melihat bencana dari laporan di atas meja atau pantauan udara helikopter. Turunlah ke teras warga yang masih berlumpur. Rasakan lembabnya, cium bau amis lumpurnya. Baru setelah itu, Anda berhak bicara tentang definisi "normal".
Jangan sampai rakyat menyimpulkan bahwa satu-satunya yang "normal" di negeri ini adalah ketidakpekaan pejabatnya terhadap penderitaan rakyat.