Normal Di Kertas, Tenggelam Di Teras: Delusi Birokrasi Pasca Bencana

photo author
Ejhy Serlesnso, Ide Nusantara
- Kamis, 8 Januari 2026 | 22:43 WIB
Ilustrasi Demokrasi Normal di kertas tenggelam di teras (Foto: ist.net)
Ilustrasi Demokrasi Normal di kertas tenggelam di teras (Foto: ist.net)

Baca Juga: Sang Eksekutor Lintas Rezim: Membedah Posisi Sentral Bahlil Lahadalia di Pusaran Kekuasaan

Korban bencana seolah di-gaslighting oleh negaranya sendiri. Mereka dipaksa percaya bahwa penderitaan mereka sudah berakhir, padahal kaki mereka masih basah dan perut mereka masih lapar. Mereka dibiarkan berjuang sendirian dalam sunyi, karena di mata negara, masalah mereka sudah dianggap selesai.

Penutup: Turunlah dari Menara Gading
Bencana tidak selesai saat air surut di halaman kantor bupati. Bencana baru benar-benar selesai saat warga terakhir sudah bisa tidur nyenyak di rumahnya sendiri tanpa rasa takut.

Kepada para pejabat di Jakarta: Berhentilah melihat bencana dari laporan di atas meja atau pantauan udara helikopter. Turunlah ke teras warga yang masih berlumpur. Rasakan lembabnya, cium bau amis lumpurnya. Baru setelah itu, Anda berhak bicara tentang definisi "normal".

Jangan sampai rakyat menyimpulkan bahwa satu-satunya yang "normal" di negeri ini adalah ketidakpekaan pejabatnya terhadap penderitaan rakyat.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ejhy Serlesnso

Tags

Rekomendasi

Terkini

Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:17 WIB

Mampukah Wartawan Adil Sejak Dalam Pikiran?

Senin, 9 Februari 2026 | 21:53 WIB

Fenomena Istri Simpanan di Kalangan Pejabat Tinggi

Senin, 9 Februari 2026 | 07:29 WIB
X