Piala Dunia 2026: Antara Euforia, Realitas, dan Cermin Diri Manusia

photo author
REDAKSI, Ide Nusantara
- Selasa, 21 Juli 2026 | 06:43 WIB
Piala Dunia 2026: Antara Euforia, Realitas, dan Cermin Diri Manusia (Foto Ilustrasi)
Piala Dunia 2026: Antara Euforia, Realitas, dan Cermin Diri Manusia (Foto Ilustrasi)

 

(Oleh: Ejhi Serlenso) 

 

OPINI, Idenusantara.com-Perhelatan akbar Piala Dunia 2026 telah usai. Spanyol mencatatkan namanya sebagai juara usai menaklukkan perlawanan gigih Argentina lewat gol penentu kemenangan di masa tambahan waktu. Seusai pertandingan, dunia seketika sibuk menghitung jumlah gelar, merangkum statistik, dan berdebat tanpa henti mengenai siapa sosok terhebat sepanjang masa. Padahal, semua yang tampak di layar kaca hanyalah cuplikan pembuka. Inti peristiwa yang sesungguhnya tak pernah terekam oleh kamera penyiaran yang hanya terpaku pada pergerakan bola.

Selama ini, pemahaman umum mendefinisikan sepak bola sebagai perhelatan dua puluh dua orang yang memperebutkan bola selama sembilan puluh menit. Pandangan itu keliru besar, setara dengan menganggap pernikahan hanyalah sekadar jamuan makan bersama. Sesungguhnya yang diperebutkan bukan sekadar bola, melainkan uang, kekuasaan, pengaruh, identitas, keyakinan, algoritma, dan ego manusia yang kerap kali jauh lebih besar daripada kapasitas Stadion MetLife itu sendiri. Bola hanyalah pelengkap panggung; tokoh utamanya adalah ambisi dan sifat manusia yang kebetulan mengenakan sepatu sepak bola.

Baca Juga: Mentan Amran Peringatkan Produsen Benih : Jangan Main-Main, Pelanggar akan Blacklist dan Diproses Hukum

Jika menengok ke dalam organisasi pengaturnya, FIFA tampak sepenuhnya berkonsentrasi pada aturan permainan seperti penetapan garis perlawanan. Namun di balik itu, perhelatan ini merupakan salah satu mesin penggerak ekonomi paling masif di muka bumi. Piala Dunia 2026 diperkirakan menyumbang nilai tambah sebesar 40,9 miliar dolar Amerika Serikat bagi perekonomian global serta menciptakan lebih dari 824 ribu lapangan pekerjaan. Sementara itu, FIFA sendiri diproyeksikan memperoleh pendapatan sekitar 11 miliar dolar AS. Angka yang begitu besar hingga kerap membuat kita lupa menimbang dampak jangka panjangnya. Para ekonom mengingatkan bahwa kontribusi nyata bagi perekonomian negara tuan rumah bahkan tak mencapai 0,1 persen dari Produk Domestik Bruto mereka. Pesta berlangsung sebulan, namun beban pemeliharaan sisa-sisa kemegahannya bisa berlangsung seumur hidup. Brasil dan Qatar telah memberikan pelajaran berharga: bangunan megah yang tak terurus kelak hanya akan berubah menjadi monumen beton termahal yang tak bernyawa.

Di sisi lain, narasi keberlanjutan dan pelestarian lingkungan kerap diumandangkan sebagai salah satu tujuan perhelatan ini. Namun kenyataan berbicara lain: industri sepak bola secara keseluruhan menghasilkan sekitar 66 juta ton emisi karbon setiap tahunnya. Penyelenggaraan yang melibatkan tiga negara, bahkan rencana perhelatan Piala Dunia 2030 yang akan mencakup tiga benua, seolah menggambarkan seseorang yang menyerukan penghematan energi sambil berkeliling dunia menggunakan pesawat pribadi. Kehadiran perusahaan energi berbasis bahan bakar fosil sebagai mitra utama pun menjadi ironi tersendiri. Berbeda dengan itu, Jepang telah menunjukkan visi yang jauh ke depan melalui "Visi Sepak Bola 100 Tahun" yang disusun sejak tahun 1991 dengan target menjadi juara dunia pada tahun 2092. Ketika banyak pihak sibuk menyusun strategi untuk pertandingan esok hari, bangsa ini sudah merancang masa depan bagi generasi yang bahkan belum lahir.

Baca Juga: Kejaksaan Tinggi NTT Diminta Periksa Kontrakor dan PPK Proyek Pembangunan Gedung Rawat Inap RSU Borong di Manggarai Timur

Sepak bola juga telah bertransformasi menjadi panggung terbesar bagi pernyataan identitas dan keyakinan. Ekspresi syukur yang lahir dari keyakinan agama tampak nyata di berbagai penjuru dunia, sekaligus memicu perdebatan yang tak berkesudahan. Di tengah keragaman itu, pesan penting disampaikan oleh Quraish Shihab: kemenangan diraih bukan karena campur tangan kekuatan gaib, melainkan berkat persiapan matang, strategi tepat, kualitas pemain, serta dukungan yang memadai. Jika hasil pertandingan semata-mata ditentukan oleh hal yang bersifat ilahi, maka tugas pelatih tak lagi memerlukan papan taktik, melainkan cukup dengan doa dan harapan.

Sayangnya, kemajuan teknologi tak selalu beriringan dengan kemajuan budaya dan adab. Piala Dunia ini mencatat adanya lebih dari 89 ribu unggahan yang mengandung pelecehan di media sosial selama babak penyisihan grup, meningkat tiga belas kali lipat dibanding edisi sebelumnya, di mana sebelas persen di antaranya berisi ujaran kebencian berbasis ras. Kebencian yang dulu tersembunyi di sudut tribun kini bergerak ke ruang maya yang lebih murah, lebih cepat, dan tanpa batas. Kampanye anti-rasisme yang digalakkan seolah tak berdaya menghadapi kebencian yang berubah wujud dan berpindah tempat dengan sangat lincah.

Tak kalah menarik adalah maraknya teori konspirasi yang mewarnai perhelatan ini. Mulai dari dugaan pengaturan hasil pertandingan yang memang terbukti terjadi di sebagian kasus, hingga tuduhan tak berdasar yang lahir dari kekecewaan suporter. Teknologi VAR yang seharusnya menjamin keadilan justru kerap dipersalahkan sebagai alat rekayasa hasil pertandingan. Penjelasan resmi dari para pengamat dan pelaksana seringkali dianggap sebagai bagian dari skenario besar yang tersembunyi. Hal ini menunjukkan betapa sulitnya memisahkan fakta dari prasangka ketika perasaan memiliki dan kesetiaan telah melibatkan perasaan mendalam.

Baca Juga: Spanyol Juara Dunia! Ferran Torres Jadi Pahlawan La Furia Roja Taklukkan Argentina di Final Piala Dunia 2026

Pada akhirnya, kita menyadari satu hal mendasar: sepak bola bukan sekadar cabang olahraga. Ia adalah laboratorium kehidupan yang menampung segala sifat dan karakter manusia dalam satu wadah raksasa. Ia telah menjadi fenomena sosial yang berfungsi sebagai "liturgi modern"—sebagaimana ungkapan pemikir Michael Novak—yang disambut oleh miliaran orang dengan semangat setara dengan keyakinan yang mereka anut. Setiap pekan, jutaan orang merapikan diri, mengenakan pakaian kebanggaan, bernyanyi bersama, dan membawa pulang perasaan yang seolah telah mengalami perubahan besar dalam hidupnya.

Piala Dunia 2026 memberikan pelajaran berharga yang tak tertulis dalam buku teori permainan. Sepak bola adalah pancingan yang digunakan untuk menarik perhatian miliaran manusia di seluruh dunia. Ketika mata kita terpaku pada pergerakan bola, transaksi bernilai triliunan rupiah terjadi. Ketika kita sibuk berdebat mengenai siapa pemain terbaik, algoritma menghitung seberapa lama kita terjebak dalam perdebatan yang tak berujung.

Yang paling gigih berlari ternyata bukanlah para penyerang di lapangan, melainkan uang dan keuntungan. Yang paling sering melakukan gerakan tak jujur bukanlah para pemain, melainkan logika berpikir kita sendiri yang kerap memihak pada kesukaan. Yang paling sering mencetak kemenangan beruntun bukanlah tim kebanggaan kita, melainkan kepentingan bisnis, politik, dan ego manusia.

Sepak bola memang tak pernah sekadar permainan. Ia adalah cermin paling jujur yang menampakkan segala sisi kemanusiaan kita: ada keindahan, ada kejujuran, namun tak jarang pula terdapat kepicikan dan aib. Dan itulah sebabnya, ia akan selalu menjadi tontonan yang tak pernah kehilangan peminatnya.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ejhy Serlesnso

Tags

Rekomendasi

Terkini

Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:17 WIB

Mampukah Wartawan Adil Sejak Dalam Pikiran?

Senin, 9 Februari 2026 | 21:53 WIB
X