Mengapa Semua Partai Akan Berebut Dedi Mulyadi?

photo author
Ejhy Serlesnso, Ide Nusantara
- Minggu, 2 Agustus 2026 | 08:09 WIB
Mengapa Semua Partai Akan Berebut Dedi Mulyadi? (Foto: Ist.net)
Mengapa Semua Partai Akan Berebut Dedi Mulyadi? (Foto: Ist.net)

Oleh: Adrian | Perdana.Asia

OPINI, Idenusantara.com-Politik itu sederhana. Partai tidak pernah alergi terhadap ideologi, tetapi mereka sangat takut pada satu hal: kalah. Karena itu, dalam politik modern, ada satu mata uang yang nilainya jauh lebih mahal daripada kursi ketua umum, dana kampanye, bahkan mesin partai. Namanya elektabilitas.

Hari ini, mata uang politik paling mahal itu sedang dimiliki oleh Dedi Mulyadi. Dua lembaga survei nasional, SMRC dan Indikator Politik Indonesia, sama-sama menempatkan KDM di posisi teratas dalam simulasi calon presiden 2029. Yang berada di bawahnya bukan tokoh biasa, melainkan Presiden RI, Prabowo Subianto.

Baca Juga: Tren Baru Pilpres 2029: Elektabilitas Dedi Mulyadi Melejit, Tinggalkan Prabowo di Survei Juli 2026

Di sinilah politik mulai bergerak. Kalau dulu banyak orang bertanya, "Partai apa yang akan mengusung Dedi Mulyadi?" Kini pertanyaannya bergeser menjadi, "Partai mana yang ingin memiliki kedekatan politik dengan Dedi Mulyadi?" Pergeseran ini menunjukkan bahwa daya tarik seorang figur mulai menjadi faktor yang sangat menentukan.

Tentu, posisi setiap partai tidak sama. Gerindra hampir pasti tetap memprioritaskan Prabowo Subianto apabila beliau kembali maju pada Pilpres 2029. Namun bagi partai-partai lain, terutama yang belum memiliki figur dengan elektabilitas sekuat KDM, hasil survei seperti ini tentu menjadi bahan perhitungan yang sangat serius.

Golkar akan berhitung. Demokrat juga akan mencermati. NasDem, PKB, PAN, hingga PKS tentu tidak mungkin menutup mata terhadap tren tersebut. Sebab, dalam politik, tidak banyak partai yang rela mengabaikan figur yang sedang mendapatkan kepercayaan besar dari publik.

Baca Juga: 6 Organisasi Jurnalis Kecam Prabowo Sebut Wartawan Londo Ireng, Desak Minta Maaf Terbuka

Kalau ada pemain sepak bola terbaik di bursa transfer, hampir semua klub akan tertarik mendapatkannya. Politik pun tidak jauh berbeda. Elektabilitas adalah pemain bintangnya. Semakin tinggi tingkat keterpilihan seseorang, semakin besar pula perhatian yang datang dari berbagai kekuatan politik.

Namun ada satu hal yang membuat posisi KDM berbeda. Popularitasnya tidak dibangun melalui baliho raksasa atau kampanye yang masif. Elektabilitasnya justru tumbuh dari aktivitas sehari-hari yang disaksikan langsung oleh masyarakat.

Publik melihatnya menyelesaikan persoalan warga, mendatangi lokasi bencana, membantu masyarakat adat, membenahi sungai, menertibkan pungutan liar, hingga mendengar langsung keluhan masyarakat. Bagi para pendukungnya, itu bukan sekadar pencitraan. Itu adalah rutinitas yang mereka lihat hampir setiap hari.

Baca Juga: Di Hari Pertama Sebagai Kepala BGN, Sudaryono Keceplosan Sebut MBG Ternyata Tender Politik Prabowo?

Kalau tren ini terus bertahan hingga 2029, bukan tidak mungkin posisi tawar KDM akan semakin kuat. Partai politik memang memiliki kendaraan untuk mengusung calon, tetapi figur dengan dukungan publik yang tinggi juga memiliki daya tawar yang besar dalam menentukan arah koalisi.

Ketika elektabilitas seorang tokoh sudah sangat kuat, hubungan antara partai dan figur menjadi lebih seimbang. Partai tetap penting karena memiliki kendaraan politik. Namun figur yang memiliki dukungan rakyat juga menjadi aset yang sangat berharga.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ejhy Serlesnso

Tags

Rekomendasi

Terkini

Mengapa Semua Partai Akan Berebut Dedi Mulyadi?

Minggu, 2 Agustus 2026 | 08:09 WIB

Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:17 WIB
X