Pandangan positif dan apresiasi terhadap keberadaan Polwan juga datang dari perwakilan polisi laki-laki, Aipda Andy Hingmadi.
Aipda Andy menekankan pentingnya kehadiran Polwan dari sisi kedinasan, tidak hanya untuk memperlancar pelaksanaan tugas dan kegiatan operasional di Polres, tetapi juga dalam mengembangkan berbagai fungsi kepolisian secara holistik dan seimbang.
Aipda Andy juga menyoroti peran ganda yang diemban Polwan, yang seringkali membutuhkan kekuatan ekstra.
"Apalagi Polwan itu kan bukan hanya polisi biasa saja, juga merangkap dua tugas. Selain ibu rumah tangga juga secara dinas mereka satu sisi mengemban tugas negara," jelasnya.
Ia menyimpulkan bahwa keberadaan Polwan sangat penting dan tak tergantikan dalam melengkapi semua sisi kerja kedinasan di kepolisian.
Mengenai kesempatan dan jabatan, Aipda Andy menegaskan bahwa semua anggota memiliki kesempatan yang sama; promosi dan penempatan dinilai berdasarkan kemampuan, loyalitas, dan sinergitas mereka dalam bekerja.
Harapannya untuk Polwan adalah agar selalu berusaha meningkatkan kemampuan dalam sisi kerja demi terciptanya proses profesional dalam pelaksanaan tugas.
Kontribusi Nyata Polwan Polres Manggarai: Lebih dari Sekadar Penegakan Hukum
Peran Polwan Polres Manggarai melampaui sebatas penegakan hukum semata; mereka aktif dalam berbagai tahapan penanganan KTP/A, menunjukkan dedikasi yang utuh dan pendekatan yang holistik yang menyentuh setiap aspek penderitaan korban:
Penyelidikan dan Penyelamatan Korban dengan Pendekatan Sensitif
Polwan di Unit PPA Polres Manggarai terlatih untuk melakukan pendekatan awal yang sangat sensitif dan berempati terhadap korban.
Mereka sigap dalam menanggapi laporan dengan cepat, melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) yang cermat, dan mengumpulkan bukti dengan cara yang tidak akan memperparah trauma yang mungkin telah dialami korban.
Berkat kesigapan dan kepekaan Polwan dalam mendapatkan keterangan dari korban yang rentan, banyak kasus KTP/A yang kompleks berhasil diungkap, memberikan harapan keadilan bagi para korban.
Pengalaman berkesan selama bertugas seringkali melibatkan kasus-kasus yang paling menguras emosi, terkhusus kekerasan seksual yang dialami anak usia 7 atau 8 tahun, dengan pelaku yang tak lain adalah orang tua kandung sendiri atau orang-orang terdekat.
Kasus-kasus inilah yang menuntut kepekaan dan pendekatan luar biasa dari Polwan. Mereka juga memastikan korban mendapatkan pertolongan pertama dan penanganan medis jika diperlukan, sebagai langkah awal pemulihan.