opini

Meneguhkan Jati Diri Bangsa Melalui Inklusi Sosial Masyarakat Adat

Senin, 6 Oktober 2025 | 18:55 WIB
Eufrasia Novantina Resi (Mahasiswa Semester VII STIPAS St. Sirilus Ruteng)

Jembatan Menuju Masa Depan: Pendidikan dan Pemberdayaan Berbasis Budaya

Kunci utama untuk mewujudkan inklusi berkelanjutan terletak pada pendidikan dan pemberdayaan yang visioner.

Pendidikan yang diberikan harus bersifat dua arah yakni mengajarkan pengetahuan modern sekaligus menghargai dan mengintegrasikan kearifan lokal.

Pemberdayaan yang berhasil adalah yang memampukan generasi muda adat menjadi jembatan kokoh yang menghubungkan kekayaan tradisi dengan tuntutan dunia kontemporer.

Mereka harus dibekali keterampilan modern—seperti literasi digital, manajemen keuangan, atau advokasi hukum—agar mampu bersaing tanpa harus meninggalkan nilai-nilai budayanya.

Ketika mereka bangga akan identitasnya dan kompeten dalam tatanan global, mereka akan menjadi agen perubahan yang kuat, memperjuangkan hak mereka dari dalam sistem.

Panggilan Aksi Moral dan Konstitusional: Menjemput Keadilan Struktural

Mewujudkan inklusi sosial bagi masyarakat adat adalah tanggung jawab kolektif yang mendesak, berdiri di atas dua pilar utama: moralitas dan konstitusi.

Pemerintah memegang kunci utama karena terikat oleh tanggung jawab konstitusional untuk mengakui, melindungi, dan menghormati hak-hak kolektif masyarakat adat.

Tanggung jawab ini harus diwujudkan dalam tindakan nyata, mulai dari percepatan penetapan dan perlindungan Wilayah Adat—sebagai fondasi sumber kehidupan dan budaya mereka—hingga pengesahan regulasi yang secara substantif berpihak dan mencegah erosi hak-hak tersebut.

Negara harus bergerak dari pengakuan normatif menjadi implementasi hukum yang kuat, memastikan bahwa hukum bukan alat untuk menyingkirkan, melainkan benteng pelindung bagi yang terpinggirkan.

Sementara itu, Lembaga Keagamaan (termasuk Gereja) dan organisasi masyarakat sipil (OMS) memiliki tanggung jawab moral yang tak kalah penting.

Mereka dipanggil untuk menjadi suara profetik—suara yang berani mengkritisi ketidakadilan—dan menjadi pendamping setia bagi komunitas adat.

Peran mereka adalah memastikan bahwa setiap narasi pembangunan, baik spiritual maupun sosial, tidak pernah kehilangan dimensi keadilan distributif bagi mereka yang tersisih.

Mereka berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan kearifan lokal dengan kesadaran publik yang lebih luas, menuntut pertanggungjawaban dari pemegang kekuasaan, dan membangun solidaritas di akar rumput.

Halaman:

Terkini

Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:17 WIB

Mampukah Wartawan Adil Sejak Dalam Pikiran?

Senin, 9 Februari 2026 | 21:53 WIB

Fenomena Istri Simpanan di Kalangan Pejabat Tinggi

Senin, 9 Februari 2026 | 07:29 WIB