opini

Perpustakaan Bertransformasi: Dari Pusat Referensi ke Ruang Validasi di Era AI

Rabu, 15 April 2026 | 22:14 WIB
Foto : Ilustrasi

OPINI — Wajah perpustakaan perguruan tinggi kini mengalami perubahan signifikan seiring perkembangan teknologi digital. Jika satu dekade lalu perpustakaan identik dengan tumpukan buku referensi yang terbuka di atas meja, kini pemandangan tersebut bergeser menjadi deretan mahasiswa dengan laptop yang sibuk menyelesaikan tugas di bawah penerangan yang tenang.

Fenomena ini memunculkan anggapan bahwa perpustakaan telah beralih fungsi dari pusat pencarian literatur menjadi sekadar ruang untuk mengejar tenggat waktu akademik. Mahasiswa cenderung memanfaatkan suasana hening perpustakaan sebagai tempat bekerja, bukan lagi sebagai ruang utama untuk menelusuri buku fisik.

Namun, pandangan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Praktisi literasi menilai perpustakaan justru mengalami transformasi peran di tengah maraknya penggunaan teknologi Artificial Intelligence (AI).

Pustakawan di Kampus Universitas Katolik Indonesia (Unika) St. Paulus Ruteng, Oswaldy Purnama Min, S.Ptk, menjelaskan bahwa kehadiran AI menciptakan pola baru dalam aktivitas akademik mahasiswa. Menurutnya, banyak mahasiswa kini datang ke perpustakaan untuk memverifikasi informasi yang diperoleh dari AI.

“Mahasiswa sering membawa draf dari AI, lalu mereka mencari buku fisik untuk memastikan apakah teori tersebut benar-benar valid. Di sinilah perpustakaan berfungsi sebagai ruang validasi,” ujarnya.

Baca Juga: Daniel Tonu, Memuliakan Demokrasi, Menakar Lebih Jauh tentang Opini Germanus Attawuwur

Ia menekankan bahwa penggunaan AI dalam dunia akademik tidak boleh dilakukan secara instan tanpa proses analisis yang matang. Oswaldy menyebutkan lima tahapan penting dalam literasi informasi, yakni mengidentifikasi kebutuhan informasi, melakukan penelusuran mendalam, menganalisis data, mengevaluasi kebenaran informasi, serta mendiseminasikan hasil yang telah teruji.

Pandangan serupa disampaikan oleh salah satu mahasiswi di kampus tersebut. Ia mengaku tetap mengandalkan buku fisik sebagai sumber utama referensi, meskipun AI membantu dalam menyusun kerangka awal tulisan.

“AI hanya memberi gambaran umum. Untuk memperdalam materi dan menjaga orisinalitas, saya tetap mencari referensi langsung dari buku di perpustakaan,” katanya.

Di tingkat daerah, upaya memperkuat peran perpustakaan juga terus dilakukan. Perpustakaan Daerah Kabupaten Manggarai, misalnya, mengembangkan berbagai program literasi untuk mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia. Selain menyediakan fasilitas yang nyaman, perpustakaan daerah juga memperkaya koleksi buku, mulai dari ilmu pengetahuan hingga kewirausahaan.

Melalui kerja sama dengan sekolah-sekolah, perpustakaan daerah berupaya memastikan akses terhadap sumber belajar yang akurat tetap terjaga. Langkah ini dinilai penting dalam mendukung visi Indonesia Emas 2045, khususnya dalam mencetak generasi yang cerdas, kritis, dan berdaya saing.

Transformasi ini menunjukkan bahwa perpustakaan tidak kehilangan fungsinya sebagai pusat ilmu pengetahuan. Sebaliknya, perpustakaan kini berperan sebagai ruang filtrasi di tengah derasnya arus informasi digital.

Di era AI, perpustakaan tetap menjadi jangkar kebenaran ilmiah tempat di mana informasi tidak hanya dicari, tetapi juga diuji. Kehadiran mahasiswa dengan laptop bukan sekadar simbol perubahan, melainkan cerminan adaptasi dunia pendidikan dalam menggabungkan kemudahan teknologi dengan kedalaman literasi.

 

Halaman:

Tags

Terkini

Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:17 WIB

Mampukah Wartawan Adil Sejak Dalam Pikiran?

Senin, 9 Februari 2026 | 21:53 WIB

Fenomena Istri Simpanan di Kalangan Pejabat Tinggi

Senin, 9 Februari 2026 | 07:29 WIB

Negara Gagal, Seorang Anak Memilih Bundir

Jumat, 6 Februari 2026 | 23:25 WIB