("Refleksi Kekalahan Messi dan Argentina: Pelajaran tentang Martabat di Tengah Kegagalan")
(Oleh: Ejhi Serlenso)
OPINI, Idenusantara.com-Peluit panjang berbunyi. Papan skor menunjukkan 1-0 untuk lawan. Di tengah sorak-sorai kemenangan yang memecah langit, satu sosok duduk diam di atas rumput yang masih basah oleh keringat.
Ia adalah Lionel Messi.
Tidak ada protes. Tidak ada amarah. Hanya tatapan kosong ke tanah, seolah sedang menghitung ulang setiap langkah, setiap keputusan, setiap pengorbanan selama bertahun-tahun. Dari sudut matanya, jatuh setetes air mata. Lalu satu lagi. Bukan rintihan orang lemah, melainkan luapan jiwa besar yang terlalu penuh untuk ditampung sendirian.
Menit-menit setelahnya terasa seperti keabadian. Ia bangkit perlahan. Memikul bukan hanya kekecewaan dirinya, tapi juga beban jutaan harapan bangsa Argentina yang menatap dari tribun berwarna langit dan matahari. Sebagian menunduk. Sebagian mengusap wajah.
Baca Juga: Piala Dunia 2026: Antara Euforia, Realitas, dan Cermin Diri Manusia
Dan di sanalah pelajaran paling penting malam itu terjadi.
1. Ketika Kemenangan Bukan Segalanya
Empat tahun lalu di Qatar, dunia menyaksikan Messi memeluk piala yang dinanti Argentina selama 36 tahun. Ia menuntun generasinya melewati badai, kebangkitan, dan akhirnya keadilan sejarah.
Selama empat tahun setelah itu, mereka memikul kehormatan sebagai juara dunia dengan kepala tegak. Dan malam ini di New York, mereka kembali berjuang sampai ke gerbang puncak yang sama. Bertahan dengan 10 orang. Bekerja untuk setiap jengkal rumput. Menghormati setiap supporter yang datang dari jauh.
Namun, olahraga memang kejam sekaligus jujur. Ada hari kita menang, ada hari kita kalah. Malam itu nasib berkata lain.