opini

Di Atas Rumput New York: Pelajaran dari Setetes Air Mata Messi yang Lebih Dahsyat Daripada Segala Kemenangan

Selasa, 21 Juli 2026 | 12:26 WIB
Lionel Messi saat setelah Timnya kalah oleh Spanyol di Final Piala Dunia 2026 (Foto: Ist. Net)

Tapi mari jujur: kekalahan ini bukan karena kurang kerja keras. Bukan karena kurang hati. Ini adalah pengingat bahwa sepak bola, seperti hidup, tidak bisa kita kendalikan sepenuhnya.

2. Air Mata Adalah Bahasa Kejujuran

Jangan buru-buru menyebut air mata itu kelemahan. Di era media sosial yang menuntut atlet selalu "tegar" dan "mesin", kita lupa bahwa mereka manusia.

Air mata Messi adalah bahasa paling jujur dari seorang pemimpin. Ia menangis bukan karena menyerah, tapi karena ia peduli sedalam itu. Karena ia tahu ada jutaan anak di Rosario, di Buenos Aires, di seluruh dunia, yang menaruh mimpi mereka di pundaknya.

Baca Juga: Hadiri Kongres, Gubernur NTT Ajak PMKRI Bangun Kepemimpinan Bersama dan Kuatkan Ekonomi Rakyat

Dan justru di situlah kemenangannya yang sesungguhnya.

Seperti yang ia bisikkan lewat sikapnya: “Kekalahan sejati bukanlah ketika kau tidak memegang piala. Kekalahan sejati adalah ketika piala itu mematahkan jiwamu dan membuatmu lupa siapa dirimu sebagai manusia.”

Messi tidak kalah. Ia hanya sedang diajarkan bahwa kemenangan adalah seberkas cahaya yang datang dan pergi. Tetapi keteguhan, kasih sayang, dan kesetiaan, itulah bintang yang tetap bersinar meski langit gelap.

3. Cermin Bernama Sepak Bola

Malam itu sepak bola kembali menjadi cermin kehidupan. Ia mengajari kita 3 hal:

Pertama, bersukacitalah tanpa angkuh. Saat menang, ingat ada orang lain yang sedang berduka.
Kedua, bersedihlah tanpa putus asa.Saat kalah, ingat harga diri tidak diukur dari skor.
Ketiga, kepemimpinan sejati diuji saat gagal.Lebih mudah memimpin saat parade kemenangan. Lebih sulit berdiri tegak saat semua orang menunduk.

Baca Juga: Spanyol Juara Dunia! Ferran Torres Jadi Pahlawan La Furia Roja Taklukkan Argentina di Final Piala Dunia 2026

Messi telah merasakan puncak tertinggi yang hampir mustahil dijangkau manusia. Dan kini ia merasakan dalamnya jurang kekecewaan. Dari sanalah jiwanya justru bertumbuh lebih luas. Karena ia kini lebih besar daripada semua trofi yang pernah ia angkat.

Untuk Argentina dan Untuk Kita Semua

Kepada rakyat Argentina: cintai dia bukan hanya ketika ia mengangkat piala. Cintai dia lebih lagi ketika ia berjalan dengan kepala tetap terangkat meski hatinya remuk.

Halaman:

Tags

Terkini

Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:17 WIB