Karena berlokasi di dataran tinggi, atau sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut, suhu di Desa Wae Rebo cenderung sejuk, dan bahkan terbilang dingin pada malam hari. Menariknya lagi, Anda pun bisa menyaksikan selimut kabut pada pagi atau sore hari yang menyuguhkan nuansa misteri tetapi menawan.
Desa Wae Rebo juga dikenal akan rumah adatnya yang unik, yaitu Mbaru Niang. Mbaru Niang merupakan rumah adat yang berbentuk kerucut menjulang tinggi.
Rumah adat ini terdiri dari lima lantai dengan atap yang terbuat dari susunan daun lontar dan dibangun tanpa menggunakan paku. Unik bukan?
Tiap lantai di Mbaru Niang memiliki fungsinya tersendiri. Lantai pertama biasanya menjadi pusat aktivitas keluarga dan sebagai tempat tinggal utama.
Lantai kedua menjadi tempat untuk menyimpan perkakas rumah tangga dan bahan makanan. Warga Desa Wae Rebo mayoritas bekerja sebagai petani dan menyimpan benih-benih tanaman di lantai tiga Mbaru Niang.
Lantai empat Mbaru Niang digunakan sebagai tempat untuk persediaan bahan makanan jika musim paceklik tiba. Sementara itu, lantai lima Mbaru Niang dimanfaatkan sebagai tempat untuk memberikan persembahan kepada arwah leluhur.
Selain rumah adatnya yang unik, di Desa Wae Rebo dikenal akan kain tenun dengan motif khas Manggarai yang berwarna cerah. Karena keunikan dan terpeliharanya adat dan budaya, Desa Wae Rebo mendapatkan apresiasi sebagai salah satu warisan budaya UNESCO pada tahun 2012 dan berhasil meraih apresiasi di Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno pun pernah menyempatkan diri singgah di Desa Wae Rebo. Sandiaga mengungkapkan sensasi berwisata di Desa Wae Rebo adalah salah satu yang paling berkesan.
Artikel Terkait
Roky Gerung Sebut Jokowi Bajingan Tolol, Stefan Antonio Soroti Pendukung Prabowo
Formasi CPNS Sudah ditetapkan,Segera Siapkan Dokumen Pendaftaran
Amien Rais Katain Jokowi Dengan Sebutan Tak Usah Ngelantur Silakan Turun Panggung
Hadiri Ibadah Syukur Panen Jemaat Alfa Omega Labat, George Merasa Bersyukur