Jika kebiasaan membaca digantikan sepenuhnya oleh hiburan instan, maka kita sedang mencetak generasi pendidik yang dangkal dan mudah bosan berpikir panjang. Guru yang terbiasa scroll, akan mengajar dengan cara yang sama: cepat, dangkal, dan tanpa refleksi.
Guru Tanpa Buku, Siswa Tanpa Inspirasi
Mahasiswa PGSD bukan hanya mahasiswa biasa; mereka calon pendidik bangsa. Artinya, mereka akan menjadi model literasi bagi generasi muda di sekolah dasar. Jika sejak di bangku kuliah mereka tidak punya minat membaca, maka sulit diharapkan mereka mampu menumbuhkan minat baca siswa kelak.
Guru seharusnya menjadi sumber inspirasi, bukan sekadar pengajar. Namun inspirasi hanya lahir dari pertemuan dengan ide-ide besar yang ditemukan melalui buku. Guru yang tidak membaca akan kehilangan daya cipta, daya renung, dan daya ubah. Ia hanya menyampaikan kurikulum, bukan membangun kesadaran.
Fenomena "calon guru tanpa buku" ini seperti melihat api pendidikan yang perlahan padam. Bagaimana mungkin bangsa berharap pada pendidikan yang mencerdaskan, jika para pendidik masa depan kehilangan semangat belajar?
Guru tanpa buku adalah guru tanpa arah. Ia tidak bisa menuntun murid menembus batas pikirannya, karena ia sendiri belum pernah menembus pikirannya sendiri.
Dosen dan Kampus Juga Punya Andil
Masalah rendahnya minat baca mahasiswa tidak berdiri sendiri. Ia adalah hasil dari ekosistem pendidikan yang tidak memberi ruang cukup bagi literasi.
Ketika dosen hanya menuntut laporan, bukan pemahaman; ketika tugas hanya mengejar format, bukan isi; ketika perpustakaan lebih sering kosong daripada digunakan, maka mahasiswa belajar bahwa membaca tidak penting.
Kampus harus berani melakukan koreksi. Perlu ada perubahan paradigma dari sekadar teaching university menjadi learning university. Dosen bukan hanya pengajar, tetapi juga fasilitator literasi. Mereka harus memberi contoh dengan merekomendasikan bacaan, mengadakan diskusi buku, dan menilai mahasiswa bukan dari hafalan, tetapi dari refleksi pribadi.
Perpustakaan juga harus hidup kembali, bukan sekadar tempat menyimpan buku, tapi menjadi ruang inspirasi dan interaksi intelektual. Literasi tidak akan tumbuh di ruang yang kering dan dingin. Ia butuh atmosfer dialog, tantangan, dan keteladanan.
Menghidupkan Kembali Api Literasi
Krisis membaca di kalangan mahasiswa PGSD bukan sekadar persoalan malas, tetapi persoalan hilangnya kesadaran intelektual. Budaya instan telah membentuk cara berpikir praktis yang berbahaya: cepat puas, cepat lupa, dan cepat menyerah.
Namun semua ini masih bisa diperbaiki. Perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Membaca bukan untuk menyenangkan dosen, tetapi untuk menumbuhkan diri. Membaca adalah tindakan merdeka, tindakan melawan kebodohan dan keacuhan.
Kampus harus kembali menjadi taman gagasan. Dosen harus menjadi penjaga api literasi. Dan mahasiswa, terutama calon guru, harus menjadi penyalanya.
Artikel Terkait
Sebut MBG Program Mulia, Bahlil: Saya Pernah Busung Lapar Saat Kuliah
Gubernur NTT Dorong Penyediaan Kawasan Ekonomi Khusus di Wilayah Perbatasan NTT
Fermin Cetak Hattrick, Barcelona Pesta Gol Saat Menjamu Olympiacos
Tahanan Kasus Pencurian di Ruteng Diduga Terlibat Jaringan Narkoba
Kabar Gembira Bagi Petani se-Indonesia Pertama Kali Dalam Sejarah, Prabowo Turunkan Harga Pupuk 20 Persen
Gubernur NTT : Sinergi Tiga Batu Tungku Kunci Peningkatan Mutu Pendidikan di NTT
Presiden Brasil Lula da Silva Tegaskan Komitmen Perkuat Kemitraan Strategis dengan Indonesia