Ia juga menekankan pentingnya sintesis antara iman dan rasio dalam kehidupan akademik.
"Iman dan akal budi bukan musuh. Kader Synergoi harus menghadirkan sintesis antara doa dan diskursus ilmiah," ungkap Marselus, seraya mendorong para kader agar tidak terjebak dalam polarisasi dan ekstremisme digital.
Lebih jauh, ia mengajak para kader untuk menjadi agen literasi digital yang kritis dan etis.
"Integritas akademik, solidaritas sosial, serta kepemimpinan yang menginspirasi disebutnya sebagai cara konkret menghadirkan nilai Injil dalam ruang publik dan kehidupan kampus," pungkasnya.
Baca Juga: Perjanjian Dagang dengan AS Berpotensi Berubah, RI Minta Tarif Produk Unggulan Tetap 0 Persen
Program Kaderisasi Synergoi Paulus Angkatan III ini menjadi wujud komitmen kampus dalam membentuk rasul awam yang tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial. Model pembinaan berbasis pengalaman langsung akan terus dipertahankan, disertai pendampingan berkelanjutan bagi para alumni kader agar proses formasi tidak berhenti pada tahap pengukuhan.
Pengukuhan tersebut pada akhirnya menjadi titik tolak, bukan titik akhir. Dari keheningan Novisiat Sang Sabda Kuwu, para kader kembali ke ruang-ruang kuliah dan tengah masyarakat dengan tanggung jawab baru: menghadirkan terang di tengah krisis makna, menjaga nurani zaman, dan memimpin dengan integritas di era yang terus berubah.
Artikel Terkait
Warga Terdampak Banjir di Jember Geram: "Pengembang Hanya Janji, Nyata di Lapangan Tak Ada!"
Bangkit dari Longsor dan Banjir, Warga Linge Bangun "Kampung Baru" di Camp Pengungsian
Jadwal Sholat Lebak dan Pandeglang, 22 Februari 2026: Umat Muslim Diimbau Tepat Waktu Tunaikan Ibadah
Tito Karnavian Serahkan Bantuan dan Buka Puasa Bersama Warga Lhokseumawe
Daun Bidara Makin Populer, Ini Sederet Manfaatnya bagi Kesehatan!
Jawa Tengah Jadi Titik Strategis Arus Mudik Lebaran 2026, Menhub Tekankan Sinergi Semua Pihak
PSS Sleman Kembali ke Puncak Klasemen, Ansyari Lubis Ingatkan Pemain Tetap Membumi