pendidikan

Lusuhnya Merah Putih di TRK Wae Lawas: Nyaringnya Janji, Sepi Realisasi

Senin, 26 Mei 2025 | 22:19 WIB
TRK Wae Lawas di Manggarai Timur-NTT (Foto: Ejhi Serlenso-Idenusantara.com)

Ketimpangan pembangunan pendidikan di Indonesia bukan cerita baru. Tapi cerita itu tak seharusnya menjadi biasa. Anak-anak di Golo Mangung bukan warga negara kelas dua. Mereka tak seharusnya menerima kenyataan bahwa sekolah hanyalah bangunan, bukan tempat belajar.

Tanggung jawab negara bukan hanya membangun, tetapi memastikan bangunan itu berfungsi. Infrastruktur pendidikan bukan sekadar proyek tender, tapi nyawa dari masa depan anak-anak yang bergantung padanya.

Ironisnya, pemerintah pusat dan daerah sering saling lempar tanggung jawab. Ketika diminta klarifikasi soal kondisi ini, pihak dinas pendidikan daerah berdalih kekurangan anggaran. Tapi publik tak pernah tahu kemana prioritas sesungguhnya diarahkan. Apakah anak-anak seperti di TRK Wae Lawas terlalu kecil untuk masuk dalam radar kebijakan?

Menggugat Sunyi, Menuntut Keadilan

TRK Wae Lawas mungkin kecil, tetapi ia adalah simbol dari pertanyaan besar: Apakah negara benar-benar hadir bagi seluruh rakyatnya?

Pendidikan bukan sekadar kewajiban administratif. Ia adalah janji sosial yang tak boleh diingkari. Ketika sekolah-sekolah di kota besar dilengkapi internet cepat dan ruang kelas ber-AC, di sudut Timur Indonesia, anak-anak membaca di ruang kosong, berteman sepi dan tanda tanya.

Jika negara absen di sini, lalu di mana sebetulnya negara hadir?

Menyalakan Lilin dalam Gelap

Yang dibutuhkan TRK Wae Lawas bukan belas kasihan. Mereka butuh keadilan pendidikan. Pemerintah daerah harus segera menginventarisasi kondisi sekolah terpencil dan mengalokasikan anggaran dengan prinsip afirmatif, bukan hanya berdasarkan jumlah siswa, tapi berdasarkan urgensi dan kerentanan wilayah.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan perlu turun tangan langsung. Program afirmasi seperti Dana BOS Afirmasi, Dana Alokasi Khusus (DAK), hingga TIK untuk Daerah 3T semestinya menyasar tempat seperti TRK Wae Lawas terlebih dahulu.

Jika tidak, maka semua wacana transformasi pendidikan hanyalah slogan kosong.

Di meja tua itu, bendera merah putih masih berkibar. Lusuh, tapi belum jatuh. Sama seperti semangat anak-anak di TRK Wae Lawas. Mereka menunggu. Bukan untuk dikasihani. Tapi untuk diakui. Bahwa mereka, juga bagian dari Indonesia.***

Halaman:

Tags

Terkini