“Teknologi bukan pengganti tradisi, tapi jembatan menuju regenerasi. Kita perlu mendigitalkan kearifan lokal agar bisa bertahan dalam tantangan global,” jelasnya.
Baca Juga: Resmikan Kampus Bhineka Tunggal Ika di Bogor, Prabowo Sebut Pendidikan Sebagai Pilar Kemajuan Bangsa
Lebih lanjut, Prof. Dr. Ir. Rr. Nugrahini Susantinah Wisnujati dari Universitas Wijaya Kusuma Surabaya memaparkan bahwa nilai budaya dan narasi lokal adalah kunci diferensiasi produk agribisnis di pasar global yang semakin kompetitif.
“Produk pertanian kita akan dihargai bukan hanya karena kualitasnya, tapi karena cerita yang dikandungnya,” katanya.
Di sisi lain, Prof. Muhammad Ali dari Universitas Mataram menekankan pentingnya sistem peternakan presisi dan pendekatan agroekologi sebagai solusi krisis pangan jangka panjang yang bersifat sistemik.
Inovasi dari Timur: NTT Siap Menjadi Pusat Agritech
Ketua panitia INOPTAN III, Dr. Hilarius Y. Sikone, menegaskan bahwa tujuan utama seminar ini bukan hanya menciptakan diskursus akademik, tetapi membangun fondasi kolaborasi lintas sektor untuk membentuk ekosistem inovasi pertanian di wilayah timur Indonesia.
“Kami percaya, NTT tidak hanya punya potensi sebagai lumbung pangan, tetapi juga pusat inovasi agritech berbasis budaya. Kekuatan kita ada pada tanah, tradisi, dan teknologi yang bersinergi,” tegas Dr. Yos.
Baca Juga: Kukuhkan 1.451 Hakim Mahkamah Agung, Prabowo: Keadilan Indonesia Ada di Tangan Anda!
Diskusi-diskusi di sesi panel dan breakout room juga menggambarkan betapa luas dan tajamnya cakupan riset dan gagasan yang dibahas.
Beberapa isu yang mengemuka antara lain, optimalisasi pupuk organik lokal, efisiensi sistem irigasi digital di daerah kering, inovasi aplikasi berbasis AI untuk prediksi cuaca mikro, hingga peran penting perempuan dalam menjaga ekosistem pertanian berkelanjutan.
Membangun Arah Baru Pendidikan Pertanian
Di tengah ketimpangan antara pusat dan daerah dalam hal akses teknologi dan pendidikan, seminar ini juga menjadi momentum refleksi bagi dunia pendidikan tinggi di kawasan timur Indonesia. Unika Santu Paulus Ruteng, melalui Fakultas Pertanian dan Peternakan, menunjukkan bahwa kampus bukan hanya tempat belajar teori, tapi juga pusat produksi gagasan, inovasi, dan pengorganisasian masyarakat tani berbasis ilmu dan budaya.
Dengan penyelenggaraan seminar ini, Unika Santu Paulus Ruteng juga mempertegas posisinya sebagai pelopor transformasi pertanian dari timur Indonesia yang berbasis nilai, sains, dan kebijaksanaan lokal. Di tengah krisis pangan global, seminar ini adalah pengingat bahwa solusi terbaik sering kali lahir dari bumi sendiri, dari tangan-tangan petani yang bekerja dengan hati, dan dari kampus-kampus yang peduli pada masa depan rakyatnya.*