pendidikan

Tak Lagi Sekadar Mengajar, Calon Guru Matematika di Unika Ruteng Dituntut Kuasai Kompetensi Abad 21

Senin, 8 Juni 2026 | 14:43 WIB
Prodi Pendidikan Matematika Unika Santu Paulus Ruteng menggelar seminar pada Sabtu, 6 Januari 2026 (Foto: Humas Prodi Matematika Unika Santu Paulus Ruteng)

Dalam pemaparannya, Dr. Kristianus menekankan bahwa kurikulum pendidikan matematika harus dirancang berdasarkan capaian pembelajaran atau outcome yang jelas sehingga mampu menghasilkan lulusan yang siap menghadapi perubahan zaman.

Menurutnya, guru matematika masa depan tidak cukup hanya menguasai materi pelajaran, tetapi juga harus mampu membangun kemampuan komunikasi matematis peserta didik, mengembangkan pola pikir kritis dan kreatif, serta memanfaatkan teknologi secara efektif dalam proses pembelajaran.

Ia menjelaskan bahwa integrasi pendekatan OBE, etnomatematika, dan kecerdasan buatan menjadi salah satu langkah strategis untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih relevan dengan kebutuhan abad ke-21.

Baca Juga: Unika St. Paulus Ruteng Tekankan PPG Bukan Sekadar Gelar, tapi Pembentukan Guru Profesional

Perspektif mengenai kondisi riil pembelajaran matematika di sekolah disampaikan oleh Fransiskus Nendi, M.Pd. melalui materi "Dari Kampus ke Ruang Kelas: Membaca Tantangan Pembelajaran Matematika di SMP dan SMA di Nusa Tenggara Timur."

Ia mengingatkan para mahasiswa bahwa dunia pendidikan di lapangan memiliki dinamika dan tantangan yang berbeda dengan teori yang dipelajari di bangku kuliah. Karena itu, calon guru perlu memahami berbagai realitas yang akan mereka hadapi ketika terjun ke sekolah.

Menurut Fransiskus, tantangan tersebut meliputi keragaman kemampuan peserta didik, motivasi belajar yang berbeda-beda, budaya sekolah yang beragam, hingga keterbatasan fasilitas pendidikan di sejumlah daerah.

Kondisi tersebut, kata dia, menuntut guru memiliki kemampuan pedagogis yang kuat serta kepekaan dalam memilih strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik.

Sementara itu, pentingnya budaya lokal dalam pembelajaran matematika menjadi fokus pembahasan Romo Emilianus Jehadus, S.S., M.Pd. yang membawakan materi "Etnomatematika sebagai Identitas Keilmuan dan Sumber Kontekstualisasi OBE."

Baca Juga: Transformasi Kurikulum Pendidikan Matematika: Langkah Strategis Unika Santu Paulus Ruteng Hadapi Era Digital

Dalam paparannya, Romo Emilianus menjelaskan bahwa pembelajaran matematika tidak harus selalu dipahami sebagai ilmu yang terlepas dari kehidupan masyarakat. Sebaliknya, konsep-konsep matematika dapat dihubungkan dengan berbagai praktik budaya yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat.

"Budaya lokal dapat menjadi sumber belajar yang kaya dalam pembelajaran matematika," jelas Romo Emilianus.

Menurutnya, melalui pendekatan etnomatematika, peserta didik dapat lebih mudah memahami konsep-konsep matematika karena dikaitkan dengan pengalaman dan budaya yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari. Selain meningkatkan pemahaman konsep, pendekatan tersebut juga berkontribusi dalam memperkuat identitas budaya generasi muda.

Perubahan besar dalam dunia pendidikan akibat kemajuan teknologi juga menjadi perhatian dalam seminar tersebut. Melalui materi "Transformasi Digital dalam Pembelajaran Matematika Berbasis OBE," Kanisius Mandur, M.Pd. menjelaskan bahwa transformasi digital bukan sekadar penggunaan perangkat teknologi dalam proses belajar mengajar.

"Transformasi digital tidak hanya berkaitan dengan penggunaan perangkat teknologi, tetapi juga menyangkut perubahan cara merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran," ujarnya.

Halaman:

Tags

Terkini