In Memoriam Paus Fransiskus: MEMBAWA AGAMA YANG EKOLOGIS DAN PENUH KASIH

photo author
Ejhy Serlesnso, Ide Nusantara
- Rabu, 23 April 2025 | 22:44 WIB
In Memoriam Paus Fransiskus (Foto: Deny JA)
In Memoriam Paus Fransiskus (Foto: Deny JA)

Oleh: Denny JA

Pada musim dingin tahun 2013, sebuah perahu kayu yang rapuh karam di lepas pantai Lampedusa, Italia. Itu pulau kecil di perbatasan Afrika Utara dan Eropa.

Lebih dari 360 pengungsi dari Eritrea dan Somalia tenggelam dalam laut yang membeku. Mayat-mayat mereka ditemukan terapung, terbungkus selimut darurat aluminium, di antara puing-puing perahu dan doa yang tak sempat diselesaikan.

Beberapa hari kemudian, Paus Fransiskus datang ke Lampedusa. Tanpa prosesi megah. Tanpa singgasana emas.

Baca Juga: Jadwal Pemakaman Paus Fransiskus

Ia hanya membawa salib kayu yang terbuat dari serpihan kapal karam. Di atas altar darurat, ia merayakan misa bagi jiwa-jiwa yang tak sempat disambut dunia.

Dengan suara gemetar, ia berdoa:
“Kami telah kehilangan rasa menangis. Kami telah membiarkan budaya kematian menjangkiti nurani kami. Ya Tuhan, ampunilah kami.”

Di hadapan laut biru yang menjelma makam tanpa nama, Paus melempar karangan bunga. Air mata para ibu dan doa-doa yatim piatu menggema bersama desir angin.Hari itu, Lampedusa menjadi tanah suci. Tempat duka dunia dijadikan altar cinta.


Wafatnya Paus Fransiskus pada awal 2025 bukan hanya meninggalkan duka bagi umat Katolik, melainkan bagi seluruh jiwa yang rindu akan agama yang lembut, membumi, dan penuh kasih.

Ia adalah pelita di tengah dunia yang gelap dan terpolarisasi. Dua warisan utamanya menjelma cahaya: ekologi spiritual dan inklusivitas tak bersyarat.

Angin di Vatikan membawa pesan baru ketika ia memperkenalkan Laudato Si’.
Sebuah ensiklik yang tak hanya mengguncang doktrin gereja, tetapi mengetuk hati umat manusia.

Baca Juga: Mensos dan Mendagri Sosialisasikan Sekolah Rakyat ke Ratusan Pemda se-Indonesia

Di dalamnya, bumi tidak lagi dipandang sebagai benda mati untuk dieksploitasi,
melainkan sebagai tubuh hidup yang menderita—makhluk spiritual yang terluka karena keserakahan manusia.

“Tanah, air, udara, dan semua makhluk adalah bagian dari keluarga kita,” tulisnya.
Kalimat sederhana, tapi memuat revolusi teologis dan ekologis yang dalam.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ejhy Serlesnso

Tags

Rekomendasi

Terkini

BENARKAH KITAB SUCI KATOLIK DIUBAH

Rabu, 8 April 2026 | 08:06 WIB

LOGOS ILAHI: FIRMAN YANG MENJADI MANUSIA

Rabu, 8 April 2026 | 08:01 WIB

Mengapa Disebut JUMAT AGUNG

Sabtu, 4 April 2026 | 15:22 WIB

APAKAH SINTERKLAS SUNGGUH ADA?

Sabtu, 6 Desember 2025 | 21:30 WIB
X