Paus Fransiskus memutar arah agama:
dari hanya memandang langit sebagai tujuan,
menuju bumi sebagai amanah dan tanggung jawab.
Ia bukan hanya pemimpin Katolik; ia adalah nabi zaman krisis iklim.
Di balik jubah putihnya, seorang pejalan sunyi mendengarkan rintih daun kering dan batuk sungai yang keruh.
Ia membaca Injil bukan hanya dari kitab suci,
tetapi juga dari retakan tanah, badai yang menerjang, dan es yang mencair di kutub.
Bagi Fransiskus, dosa ekologis bukan konsep abstrak—tapi luka nyata.
Dalam dunia yang mengukur nilai dari laba dan pertumbuhan tak terbatas,
ia berdiri sebagai suara sunyi yang berkata: cukup.
Baca Juga: Perempuan, Pendidikan, dan Revolusi Kritis: Menuntut Akses yang Setara
Paus menyebut keserakahan industri telah melahirkan “kebudayaan sampah”—
sebuah sistem yang menjadikan alam dan manusia sebagai barang pakai-buang.
Inilah krisis spiritual terbesar zaman ini:
ketika bumi diperlakukan sebagai objek, bukan sebagai subjek yang suci.
Paus Fransiskus menyerukan pertobatan ekologis.
Bukan hanya perubahan cara hidup, tapi perubahan cara mencinta.
Ia mengajak kita membumikan doa—bukan sekadar untuk keselamatan jiwa,
tetapi juga untuk pemulihan tanah, air, dan udara.
“Agama harus berhenti hanya membicarakan surga,” katanya, “jika ia membiarkan bumi menjadi neraka bagi generasi mendatang.”
Dan ini bukan retorika.
Ia mendorong gereja-gereja memakai energi terbarukan,
mendukung pertanian organik,
dan menolak proyek ekstraktif yang melukai ekosistem lokal.
Ia memeluk para aktivis lingkungan seperti ia memeluk para pengungsi. Itu
karena keduanya korban dari sistem yang sama: sistem yang mengeksploitasi dan memutus ikatan manusia dengan alam.
Bagi Fransiskus, spiritualitas tidak sah jika tak menyentuh tanah. Relasi dengan Tuhan tak bisa dipisahkan dari relasi dengan bumi.Kita tak bisa mencintai Pencipta sambil terus menyakiti ciptaan-Nya.
Apa yang disuarakan Paus Fransiskus melampaui Katolik.
Ia merangkul kosmologi spiritual dari banyak tradisi.