Di dunia saat ini, “tampaknya seseorang yang mewarisi banyak harta dianggap lebih layak dibandingkan seseorang yang bekerja keras seumur hidup namun tak bisa menabung,” tegasnya, sebelum bertanya: “Apakah yang lemah tidak memiliki martabat yang sama dengan kita? Apakah mereka yang lahir dengan sedikit kesempatan hanya harus bertahan hidup?”
Paus Fransiskus, Pekerja yang Tak Kenal Lelah
Kardinal Fernández kemudian menyinggung teladan Paus Fransiskus sebagai seorang pekerja. “Ia bekerja tidak hanya di pagi hari, dengan pertemuan, audiensi, perayaan dan kegiatan, tetapi juga sepanjang sore,” kenangnya, seraya menambahkan bahwa empat hari sebelum wafat, meski sangat lemah, beliau tetap bersikeras mengunjungi penjara.
Baca Juga: Pemda Manggarai Timur Percepat Defenitif Status Desa Persiapan
Paus hampir tidak pernah mengambil waktu istirahat. Kebiasaan ini sudah dimilikinya sejak di Buenos Aires, kenang Kardinal Fernández: “Ia tidak pernah pergi ke restoran, teater, berjalan-jalan atau menonton film, dan tidak pernah mengambil hari libur penuh.”
Bagi Fransiskus, lanjut Fernández, “pekerjaan sehari-harinya adalah jawaban atas kasih Allah.”
Mempercayakan Paus kepada Santo Yusuf
Para anggota Kuria juga adalah para pekerja, tandas Fernández: “kerja juga bagi kita di Kuria adalah jalan menuju kedewasaan dan pemenuhan diri sebagai orang Kristen.”
Sebagai penutup, kardinal asal Argentina itu mengenang bahwa setiap kali Paus Fransiskus merasa khawatir, “ia akan meletakkan secarik kertas berisi permohonan di bawah ikon Santo Yusuf.”
Kepada santo yang bekerja begitu keras untuk menjaga Maria dan Yesus itulah, kata Kardinal Fernández, kita sekarang berdoa: “Mari kita mohon agar ia memeluk Paus Fransiskus yang terkasih di surga.”