3.Renungan Jumaat Agung: Cahaya yang Lahir dari Kegelapan
Mengapa kegelapan ini begitu penting bagi iman kita?
Kerana ia mengajarkan kita bahawa keselamatan seringkali datang bukan dalam bentuk kemuliaan yang gemerlapan, melainkan dalam kerendahan dan kepedihan yang kelam.
Pertama, kegelapan itu mengingatkan kita akan beratnya dosa. Dosa bukanlah sekadar pelanggaran moral, melainkan suatu kuasa gelap yang sanggup “memadamkan” terang Ilahi.
Kedua, kegelapan itu mengajak kita untuk tetap beriman ketika Tuhan tampak diam. Seruan Yesus, “Eli, Eli, lama sabakhtani?” (Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?) adalah doa yang lahir dari kedalaman kegelapan—sebuah doa yang mengajarkan kita untuk tetap percaya meskipun rasanya Tuhan jauh.
Baca Juga: Umat Stasi Compang Ngeles Antusias Ikut Prosesi Jalan Salib Jumat Agung
4.Dari Kegelapan Menuju Terang Kebangkitan
Namun, iman Katolik tidak pernah berhenti pada kegelapan semata. Kegelapan Jumaat Agung hanyalah pintu masuk menuju terang Kebangkitan. Sebagaimana sebuah renungan dalam Herald Malaysia mengingatkan kita, respon Tuhan terhadap kegelapan Jumaat Agung adalah dengan mengatakan buat kali kedua, “Jadilah terang!” Kebangkitan Yesus adalah cahaya baru yang, pada akhir hari gerhana, bersinar lebih terang dari semua lampu.
Maka, saudara-saudari yang terkasih, ketika kita merenungkan kegelapan yang menyelubungi Golgota pada tengah hari, janganlah kita takut. Justru di situlah kita diajak untuk masuk lebih dalam ke dalam misteri kasih Tuhan: bahawa cahaya sejati tidak pernah dapat dikalahkan oleh kegelapan (Yohanes 1:5). Sebaliknya, kegelapan itu sendiri yang dikalahkan oleh terang Kristus.
Baca Juga: Mengapa Disebut JUMAT AGUNG
Sumber Rujukan:
1. Alkitab (TB-BM): Matius 27:45; Markus 15:33; Lukas 23:44-45.
2. Paus Benediktus XVI: Audiensi Umum, 8 Februari. Saat Allah Sepertinya Tidak Mendengar, Carmelia.net.
3. Herald Malaysia: Terang kebangkitan mengalahkan kegelapan (14 April 2023).
4. Herald Malaysia: Dalamnya makna Jumaat Agung (13 April 2017).