Proses Penetapan Kanon Perjanjian Baru
Perjanjian Baru juga melalui proses kanonisasi yang berlangsung secara bertahap. Pada abad-abad pertama, berbagai tulisan apostolik beredar di kalangan Gereja. Menjelang akhir abad ke-2, Ireneus dari Lyons telah menyebutkan empat Injil sebagai kitab suci.
Pada abad ke-4, Gereja mulai merumuskan secara resmi kanon Kitab Suci melalui serangkaian sinode dan konsili. Sinode Hippo (tahun 393 M) dan Konsili Kartago (tahun 397 M) yang dihadiri oleh Santo Agustinus, merumuskan daftar kitab kanonik yang mencakup kitab-kitab Deuterokanonika dalam Perjanjian Lama dan 27 kitab Perjanjian Baru.
Daftar ini kemudian ditegaskan kembali oleh Konsili Roma di bawah Paus Damasus I (tahun 382 M), yang menghasilkan apa yang dikenal sebagai "Daftar Damasian". Daftar ini termuat dalam dokumen Decretum Gelasianum dan identik dengan kanon yang kemudian ditetapkan oleh Gereja Katolik.
Dr. F.C. Burkitt, seorang ahli sejarah gereja dari Cambridge, menegaskan bahawa daftar ini merepresentasikan kanon yang telah diterima oleh Gereja Roma sejak abad ke-4.
Baca Juga: LOGOS ILAHI: FIRMAN YANG MENJADI MANUSIA
Penetapan Dogmatis di Konsili Trente
Pada abad ke-16, seiring dengan munculnya Reformasi Protestan yang menolak kitab-kitab Deuterokanonika, Gereja Katolik merasa perlu untuk menegaskan secara dogmatis kanon Kitab Suci. Hal ini dilakukan dalam Sesi Keempat Konsili Trente (8 April 1546).
Konsili Trente tidak "menciptakan" atau "mengubah" kanon baru, melainkan menegaskan kembali kanon yang telah diterima secara turun-temurun sejak abad ke-4. Dekrit Konsili Trente menyatakan:
"Maka Sinode ini... menerima dan memuliakan dengan rasa bakti dan hormat yang sama semua kitab baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru... serta juga tradisi-tradisi yang berkenaan dengan iman dan moral... Daftar kitab-kitab suci itu adalah sebagai berikut: ..."
Konsili ini menetapkan bahawa Vulgata (terjemahan Latin yang dikerjakan oleh Santo Hieronimus pada akhir abad ke-4) adalah edisi resmi Kitab Suci untuk Gereja Latin, bukan kerana dianggap paling unggul secara tekstual, tetapi kerana telah digunakan secara luas dalam liturgi selama lebih dari seribu tahun.
Baca Juga: DIMANAKAH DALAM INJIL YESUS MENYATAKAN BAHWA DIA TUHAN?
Prof. Nelson H. Minnich dari Catholic University of America menjelaskan dalam The Cambridge Companion to the Council of Trent bahawa keputusan ini merupakan respons terhadap tantangan Reformasi dan merupakan penegasan atas apa yang telah menjadi praktik Gereja sejak awal.
Ajaran Gereja Katolik tentang Kitab Suci
Konsili Vatikan II dalam dokumen Dei Verbum (Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi), yang disahkan pada tahun 1965, memberikan ajaran yang jelas tentang Kitab Suci. Dokumen ini menegaskan bahawa: