Mengenal Sejarah Asal Mula Terbentuknya Kota Ruteng

photo author
Carles Marsoni, Ide Nusantara
- Selasa, 21 Januari 2025 | 10:57 WIB
Kota Ruteng  (Foto: Istimewa)
Kota Ruteng (Foto: Istimewa)

Manggarai, idenusantara.com - Menjadi salah satu kota metropolitan terbesar di Manggarai Raya, ternyata ada sejarah panjang di balik berdirinya Kota Ruteng yang berlangsung sejak masa Kolonialisme Belanda.

Sejarah Kota Ruteng paling unik di Nusa Tenggara Timur bahkan di segenap Indonesia, karena awal pendiriannya sinkron dengan awal terbentuknya wilayah administrasi kolonialisme Belanda di Manggarai.

Disamping itu juga sangat erat hubungannya dengan usia perlawanan berdarah rakyat Manggarai melawan kolonialisme Belanda.

Mengenai keunikan dan proses perlawanan sehingga terbentuknya Kota Ruteng, kemungkinan banyak yang masih tahu lewat penurunan tradisi sejarah lisan, terlebih yang masih sangat segar beredar di dalam lingkungan keluarga yang pernah terlibat dalam peristiwa bersejarah tersebut.

Todo-Pongkor Sebagai Pusat Pemerintahan 

Sejarah terbentuknya kota Ruteng yang saat ini menjadi ibu kota Kabupaten Manggarai tidak bisa dipisahkan dari sejarah Todo-Pongkor sebagai pusat pemerintahan penguasa Manggarai.

Baca Juga: Kampung Adat Rangat Desa Wisata Wae Lolos Labuan Bajo

Bagaimanapun menjadi fakta historis yang tidak terbantahkan bahwa seluruh wilayah Manggarai yang saat ini telah dimekarkan menjadi tiga kabupaten (Kabupaten Manggarai ibu kotanya Ruteng, Kabupaten Manggarai Barat ibu kotanya di Labuan Bajo, pemekaran tahun 2003, dan Kabupaten Manggarai Timur ibu kotanya di Borong, pemekaran tahun 2007).

Ketiga kabupaten ini pada jaman dulu pernah dikendalikan dari Todo-Pongkor, yang saat ini hanya berstatus sebagai desa di wilayah Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Janggur, 2008: 59-60

Todo-Pongkor adalah pusat pemerintahan pada masa pemerintahan dipegang oleh Kraeng Adak Todo-Pongkor yang berkuasa di Manggarai saat itu.

Coolhaas, bekas kontrolir Manggarai sebelum Mennes tahun 1926-1927 mempersiapkan pengakuan Belanda pada Zelfsbestuur Manggarai menyebutkan bahwa, hubungan Todo-Pongkor sebagai adik-kakak, walaupun tidak sampai tuntas menjelaskan istilah tersebut melalui penelusuran bukti silsilah.

Juga dijelaskan bahwa Adak Todo-Pongkor sebagai “twee-eenheid van vorsten” raja-raja dwitunggal. Todo sebagai unsur roh magis sedikit lemah lembut, sedikit bersahabat, sedikit menjaga jarak dengan duniawi. Sedangkan Pongkor sebagai unsur badan wadag dengan sifat keras, tegar, kurang tahan diri.

Orang Manggarai menaruh rasa hormat kepada kraeng Todo, tetapi dalam hal perintah tetap orang Manggarai merasa takut kepada kraeng Pongkor.

Baca Juga: Mengenal Goa Rangko Tempat Wisata Tersembunyi di Labuan Bajo

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Carles Marsoni

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X