Idenusantara.com-Seorang siswi Sekolah Dasar di wilayah 3T Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), menulis surat terbuka untuk Presiden Prabowo Subianto. Dalam suratnya, Myscha, murid SDI Compang Ngeles, mempertanyakan belum terealisasinya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolahnya sekaligus menyuarakan kekhawatiran akan kasus keracunan yang marak diberitakan.
Myscha, siswi kelas 5 SDI Compang Ngeles, Desa Rana Gapang, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, mengaku belum pernah menerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejak program tersebut dicanangkan pemerintah pusat.
“Di TV dan YouTube saya lihat daerah lain sudah lama jalan. Teman-teman sudah makan, tapi di sekolah kami sampai hari ini belum ada,” tulis Myscha dalam surat terbukanya, pada Minggu (26/4/2026).
SDI Compang Ngeles terletak di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) yang aksesnya cukup sulit dijangkau. Kondisi tersebut diduga menjadi salah satu penyebab belum meratanya distribusi program MBG.
Baca Juga: 10 Tahun Lumpuh, Warga Elar Selatan Tinggal di Kandang Butuh Uluran Tangan
Selain menyoroti keterlambatan, Myscha juga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap pemberitaan kasus keracunan makanan yang diduga bersumber dari program MBG di sejumlah daerah.
“Saya jadi takut, Pak. Takut pusing dan sakit perut. Kalau suatu saat MBG masuk ke sekolah saya, saya tidak mau makan,” ujarnya.
Sebagai alternatif, Myscha mengusulkan agar anggaran MBG dapat dialokasikan langsung ke pihak sekolah atau orang tua siswa. Menurutnya, skema tersebut lebih aman karena pengelolaan dapat disesuaikan dengan selera dan standar keamanan pangan lokal. Ia juga menyinggung pemberitaan mengenai dugaan pemotongan anggaran oleh oknum tidak bertanggung jawab di daerah lain.
Lebih lanjut, Myscha berharap pemerintah lebih memprioritaskan kesejahteraan guru dan pemenuhan sarana prasarana pendidikan di wilayah 3T. Ia menyebut kebutuhan mendesak di sekolahnya meliputi perlengkapan sekolah seperti tas, buku, dan seragam, perbaikan ruang kelas yang rusak, serta peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik.
“Saya yakin kalau guru sejahtera dan sekolah bagus, kami pasti jadi pintar. Nggak perlu takut keracunan juga,” tulisnya.