Ia menambahkan bahwa dalam pendekatan ini, dosen tidak berperan sebagai pemberi jawaban, melainkan sebagai fasilitator yang mengarahkan proses berpikir mahasiswa secara reflektif dan sistematis.
Kasus-kasus yang digunakan dalam pembelajaran PPG, lanjutnya, mencakup berbagai persoalan nyata yang kerap dihadapi guru di sekolah, mulai dari pembelajaran di kelas, manajemen kelas, evaluasi pembelajaran, hingga etika profesi guru.
"Mahasiswa PPG harus terbiasa menjadi problem solver. Mereka tidak cukup menguasai teori, tetapi harus mampu membaca situasi nyata dan merumuskan solusi yang bertanggung jawab," ungkapnya.
Leonardus juga menekankan pentingnya tahap sintesis dan refleksi dalam Case Based Method sebagai bagian dari pembentukan identitas profesional guru.
"Refleksi tidak boleh berhenti pada pemahaman. Refleksi harus berujung pada aksi nyata, seperti uji coba di PPL, revisi RPP, atau Penelitian Tindakan Kelas," tegasnya.
Melalui kegiatan orientasi ini, Unika St. Paulus Ruteng menegaskan komitmennya bahwa PPG bukan sekadar proses administratif untuk memperoleh gelar, melainkan ruang pembentukan guru profesional yang berkarakter, kompeten, reflektif, dan siap mengabdi bagi peningkatan mutu pendidikan Indonesia.
Artikel Terkait
Resmikan Gerai NTT Mart Ngada, Gubernur Melki: Upaya Pemprov Perkuat Ekonomi Kerakyatan dan Akses Pasar Produk UMKM Lokal
Resmikan NTT Mart di Manggarai, Gubernur Melki : Ini Cara Kita Memuliakan Produk UMKM NTT
Bupati Manggarai Apresiasi Launching NTT Mart UBSP Lembu Nai di SMA Negeri 2 Langke Rembong
Babak Baru Dugaan Pencemaran Nama Baik di Medsos, Rosina Dewi Diperiksa Tipidsus Polres Manggarai
Penabrak Balita di Manggarai Barat Resmi Ditahan Polisi
Wagub Johni Asadoma Kunjungi Kota Denpasar, Ajak Untuk Rajut Kembali Harmoni Warga NTT – Bali
Polemik Pemekaran Luwu Raya Memanas, Gubernur Sulsel Asik Makan Pizza