pendidikan

6 Kunci Sukses Pengembangan Koperasi Desa Merah Putih

Sabtu, 31 Mei 2025 | 21:56 WIB
Ilustrasi Kopdes Merah Putih (Foto: Ist.net)

Fenomena ini terlihat dari fakta empiris: sedikit sekali pemuda yang tertarik menjadi pengurus atau anggota koperasi, sementara banyak koperasi yang pengelolanya sudah uzur dan kurang melek teknologi. Tanpa pembaruan darah muda, dikhawatirkan koperasi akan kehilangan relevansi seiring waktu.

Ada beberapa faktor penyebab generasi milenial dan Gen-Z kurang tertarik pada koperasi. Pertama, sosialisasi dan edukasi koperasi di kalangan muda relatif lemah. Kurikulum pendidikan formal jarang mengajarkan praktik berkoperasi secara menarik.

Kedua, citra koperasi dianggap kuno, prosedural, dan “bukan ladang uang” dibanding start-up atau pekerjaan lainnya. Padahal, bagi pemuda yang berpikir serba instan, koperasi kurang dikenal sebagai tempat berkreasi atau berkarir menjanjikan.

Sebuah survei internal yang dikutip Kemenkop menunjukkan minat dan ketertarikan pelajar, mahasiswa, dan pemuda terhadap semangat berkoperasi relatif kecil. Banyak yang tidak mengenal prinsip koperasi, atau merasa kewajiban seperti rapat anggota dan simpanan wajib adalah beban.

Baca Juga: Waspada Wabah ASF di Manggarai Timur: Pemerintah Daerah Bergerak Cepat Lindungi Ternak dan Peternak

Selain itu, kultur koperasi yang mengutamakan kolektivitas kadang kalah pamor dengan semangat wirausaha individual yang marak di kalangan milenial.

Menghadapi tantangan ini, strategi kaderisasi koperasi perlu inovatif dan terstruktur. Pemerintah dan gerakan koperasi mulai menyiapkan “grand design” regenerasi koperasi secara berkelanjutan.

Salah satu pendekatannya adalah mendorong pendirian Koperasi Pemuda dan Koperasi Mahasiswa (Kopma) sebagai wadah latihan bagi kaum muda. Hingga 2018 saja, tercatat sudah ada 763 unit Koperasi Pemuda dan 526 unit Kopma di Indonesia, dan angka ini terus berkembang.

Di kampus-kampus, Kopma menjadi tempat belajar berorganisasi sambil berbisnis kecil-kecilan, melatih jiwa kewirausahaan kolektif. Selain itu, pembentukan koperasi di komunitas pemuda desa (misal karang taruna) juga digalakkan. Dengan memiliki koperasi sendiri, pemuda bisa melihat langsung manfaat ekonomi dan sosialnya, sehingga stigma “koperasi itu jadul” bisa terkikis.

Strategi lain adalah digitalisasi koperasi untuk menarik minat generasi muda. Pemuda yang akrab dengan gawai akan lebih tertarik pada koperasi yang punya aplikasi mobile, sistem online, atau aktif di media sosial.

Baca Juga: Capai Rp123,3 Miliar Inilah Rincian Dana Desa Tahun 2025 di Kabupaten Manggarai-NTT Cek Desa Tertinggi!!

Misalnya, Koperasi “X” di Jawa Timur berhasil menggandeng puluhan milenial menjadi anggota setelah meluncurkan aplikasi simpan-pinjam online yang memudahkan transaksi tanpa harus datang ke kantor koperasi (studi kasus hipotetis).

Langkah-langkah seperti ini membuat koperasi tampak relevan dengan gaya hidup anak muda. Pemerintah melalui Kemenkop juga mengadakan berbagai kompetisi ide bisnis koperasi untuk kaum muda, inkubator koperasi start-up, hingga program magang di koperasi sukses. Tujuannya untuk menumbuhkan ketertarikan dan memberikan pengalaman nyata pada generasi milenial tentang serunya berkoperasi.

Tak kalah penting adalah penanaman nilai-nilai koperasi di kalangan muda. Gerakan Koperasi Merah Putih 2025 mencoba memasukkan semangat nasionalisme dan gotong royong (Merah Putih) dalam narasi yang bisa diterima pemuda. Koperasi desa diharapkan menjadi ajang aktualisasi diri yang positif bagi pemuda desa. Misalnya, daripada merantau ke kota tanpa arah, pemuda bisa tinggal di desa membangun usaha bersama lewat koperasi dengan dukungan pemerintah.

Koperasi bisa menjadi “startup desa” yang keren: bidang usahanya bisa agribisnis modern, wisata minat khusus, atau produk kreatif lokal, dengan pemuda sebagai motor penggeraknya. Kisah sukses pemuda desa mengelola koperasi hingga maju perlu diangkat sebagai inspirasi.

Halaman:

Tags

Terkini