Penulis : Kristianus Jandar (Mahasiswa Program Studi PGSD Universitas Katolik St. Paulus Ruteng)
IDENUSANTARA.COM - Ketika dosen mata kuliah Bahasa Indonesia di Universitas Katolik Santu Paulus Ruteng memberikan tugas menulis opini sebagai pengganti Ujian Tengah Semester (UTS), semestinya itu menjadi ruang pembelajaran yang bermakna. Menulis opini tidak hanya melatih keterampilan menulis, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, bernalar logis, dan berargumen secara etis.
Namun, kenyataan di lapangan berbicara lain. Tugas tersebut justru menjadi beban menakutkan bagi sebagian mahasiswa Kelas 2025N Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Alih-alih melahirkan gagasan, sebagian mahasiswa malah menempuh jalan pintas: memanfaatkan kecerdasan buatan seperti ChatGPT, menyalin teks dari internet, atau bahkan membayar orang lain untuk menulis.
Fenomena ini adalah potret nyata krisis literasi dan kehilangan etos belajar di kalangan calon guru yang kelak akan memegang peran penting dalam membentuk budaya berpikir generasi berikutnya.
Baca Juga: Ketika Janji Tinggal Cerita: Potret Politik Tanpa Akuntabilitas di Manggarai
Krisis Literasi di Kelas Calon Pendidik
Kelas 2025N PGSD Universitas Katolik Santu Paulus Ruteng terdiri dari 42 mahasiswa, dengan komposisi 10 laki-laki dan 32 perempuan. Dari jumlah itu, hanya 7 mahasiswa yang rutin membawa buku setiap kali kuliah. Sementara kunjungan ke perpustakaan kampus hampir tak pernah dilakukan, kecuali ketika diperintahkan oleh dosen.
Dari 10 dosen pengajar di kelas ini, hanya satu orang yang secara konsisten menugaskan mahasiswa untuk membaca dan mengunjungi perpustakaan. Artinya, sebagian besar aktivitas akademik di kelas lebih berfokus pada ceramah, catatan, dan tugas tertulis tanpa fondasi bacaan yang kuat.
Di luar kelas, situasinya bahkan lebih parah. Hanya dua kamar kos mahasiswa yang memiliki buku terpajang. Buku, yang seharusnya menjadi sahabat sehari-hari seorang calon pendidik, kini menjadi benda asing yang jarang disentuh. Di sisi lain, gawai dan media sosial menjadi "teman akrab" yang menghabiskan sebagian besar waktu mahasiswa.
Kondisi ini menggambarkan perubahan budaya belajar yang mengkhawatirkan. Kampus, yang seharusnya menjadi pusat lahirnya pembaca dan pemikir muda, kini mulai berubah menjadi ruang formalitas akademik tempat mengejar nilai tanpa semangat intelektual.
Baca Juga: MAWATU, Magnet Baru Wisata dan Gaya Hidup Modern di Labuan Bajo
Ketika Tugas Akademik Menjadi Jalan Pintas Digital
Fenomena penggunaan kecerdasan buatan dalam menyelesaikan tugas menulis kini menjadi fenomena umum. ChatGPT dan berbagai alat bantu lainnya menawarkan kemudahan luar biasa, tetapi juga menyimpan bahaya laten: menggoda mahasiswa untuk tidak berpikir.
Tugas menulis opini seharusnya menjadi proses kreatif yang menuntut mahasiswa membaca, memahami, menganalisis, dan mengolah ide menjadi gagasan pribadi. Namun ketika membaca tidak menjadi kebiasaan, menulis pun kehilangan substansi. Mahasiswa tidak punya "bahan bakar" untuk berpikir, sehingga teknologi dijadikan jalan pintas.
Sebagian mahasiswa beranggapan, hasil akhirnya yang penting bukan prosesnya. Padahal dalam dunia pendidikan sejati, nilai tidak lebih penting daripada proses belajar itu sendiri.