pendidikan

Calon Guru, Tapi Tak Suka Buku: Potret Suram Literasi Mahasiswa PGSD

Rabu, 29 Oktober 2025 | 09:24 WIB
Kristianus Jandar, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Katolik Santu Paulus Ruteng (Dok. Ide Nusantara)

Kebiasaan mengandalkan AI tanpa pemahaman justru melahirkan generasi "copy-paste" yang pandai meniru, tapi miskin refleksi. Lebih buruk lagi, mentalitas seperti ini menumbuhkan budaya instan dan menumpulkan integritas akademik.

Jika kebiasaan ini dibiarkan, maka kita sedang membiarkan lahirnya guru masa depan yang cerdas teknologi tapi miskin literasi, terampil mengetik tapi tak mampu berpikir.

Baca Juga: Sinergi Budaya dan Bhayangkara: Bhabinkamtibmas Rahong Utara Jadi Teladan di Tengah Tradisi Adat

Membaca: Jantung dari Proses Belajar 

John Locke, seorang filsuf asal Ingris yang menjadi salah satu tokoh utama dari pendekatan Empirisme pernah mengingatkan, "Reading furnishes the mind only with materials of knowledge; it is thinking that makes what we read ours." Membaca memberi bahan, tetapi berpikir menjadikannya milik kita.

Sayangnya, sebagian besar mahasiswa hari ini berhenti pada tahap pertama, mereka bahkan tidak membaca. Padahal, membaca adalah jantung dari proses belajar. Tanpa membaca, tidak ada pengayaan wawasan; tanpa berpikir, tidak ada pembentukan pemahaman.

Mahasiswa PGSD adalah calon guru, mereka bukan hanya dituntut menguasai teori pedagogik, tetapi juga harus memiliki kepekaan sosial, intelektual, dan moral. Semua itu tumbuh dari kebiasaan membaca: dari buku-buku pendidikan, karya sastra, hingga refleksi filsafat.

Membaca bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan latihan untuk berpikir mendalam dan melihat dunia dari perspektif yang lebih luas. Tanpa kebiasaan ini, mahasiswa akan mudah puas dengan informasi dangkal dan tidak terbiasa berpikir kritis terhadap isu-isu pendidikan dan sosial.

Guru tanpa bacaan adalah guru tanpa arah. Ia hanya mengulang pelajaran, bukan mencipta makna. Ia mengajar anak membaca kata, tapi tidak mengajarkan mereka membaca dunia.

Otak Hanya Tajam Jika Berdialog

Filsuf dan kosmolog Karlina Supelli pernah berkata, "Baca buku itu tidak bisa digantikan dengan TikTok dan nonton film. Karena kerja otak hanya bisa dilatih tajam kalau otak berdialog yaitu dengan baca buku."

Kutipan ini terasa sangat relevan di tengah maraknya budaya visual yang menguasai kehidupan mahasiswa hari ini. Hampir setiap waktu luang dihabiskan untuk menonton video singkat, mendengarkan musik, atau bermain media sosial.

Masalahnya bukan pada teknologinya, melainkan pada cara kita menggunakannya. Hiburan digital memang menghibur, tetapi tidak menantang otak untuk berpikir. Sebaliknya, membaca memaksa kita berdialog dengan ide penulis untuk mempertanyakan, menimbang, menolak, atau menyetujui. Di situlah terbentuk ketajaman intelektual.

Baca Juga: Optimalisasi Pelayanan! Sekda Manggarai Dorong Camat Jadi Motor Penggerak Gotong Royong

Membaca adalah dialog tanpa suara. Saat kita membaca, pikiran penulis berbicara di kepala kita, dan pikiran kita merespons. Proses ini melatih daya kritis, imajinasi, dan refleksi, tiga hal yang sangat penting bagi seorang calon guru.

Halaman:

Tags

Terkini