IDENUSANTARA.COM - Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santu Paulus Ruteng kembali menegaskan makna profesionalisme guru sebagai tanggung jawab moral dan etis, bukan sekadar capaian administratif, saat mengukuhkan 831 lulusan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Guru Tertentu Periode III Tahun 2025, Sabtu (31/1/2025).
Pengukuhan berlangsung khidmat di Aula Lantai 5 Gedung Utama Timur (HUT) Kampus Unika Santu Paulus Ruteng, dengan kehadiran peserta secara luring dan daring. Para guru yang dikukuhkan berasal dari tiga provinsi, yakni Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT), menandai peran Unika sebagai pusat pengembangan guru profesional lintas wilayah.
Baca Juga: Mentan Amran Tegaskan Pengawasan Ketat dari DOC hingga Daging Sapi Jelang Ramadan
Tema yang diangkat, “Guru Profesional: Mengabdi dengan Ilmu dan Mendidik dengan Hati”, menjadi benang merah seluruh rangkaian acara, menegaskan bahwa kompetensi akademik harus berjalan seiring dengan integritas pribadi dan kepekaan kemanusiaan.
Ketua Program Studi PPG Unika Santu Paulus Ruteng, Drs. Eliterius Sennen, M.Pd., dalam laporan resminya menyampaikan bahwa dari 835 peserta UKPPPG, sebanyak 831 orang dinyatakan lulus, atau mencapai 99,52 persen.
Rinciannya, 445 lulusan PGSD, 215 lulusan Pendidikan Bahasa Inggris, dan 171 lulusan Pendidikan Matematika, dengan tingkat kelulusan nyaris sempurna di seluruh bidang studi.
“Acara hari ini merupakan momentum bersejarah dan bermakna yang menandai keberhasilan para guru dalam menyelesaikan proses pendidikan profesional yang penuh tantangan,” ujar Eliterius.
Baca Juga: Mentan Amran Tegaskan Jelang Ramadhan–Idul Fitri 2026 Tak Ada Alasan Harga Pangan Naik
Ia menegaskan bahwa capaian kelulusan tinggi tersebut tidak terlepas dari kedisiplinan dan komitmen peserta dalam menjalani pembelajaran mandiri melalui Ruang GTK, yang pada tahun 2025 sepenuhnya menggantikan skema pembelajaran tahun sebelumnya.
“Anda telah membuktikan diri layak menyandang predikat guru profesional. Kami berharap, Anda tidak hanya membawa pulang sertifikat pendidik, tetapi juga membawa semangat untuk terus belajar, terus berkembang, dan memberikan yang terbaik bagi peserta didik dan lingkungan sekolah masing-masing,” tegasnya.
Orasi Ilmiah: Ilmu Tanpa Integritas Kehilangan Makna
Orasi ilmiah disampaikan oleh Dr. Yosefina Heleonora Jem, M.Pd., yang menyoroti profesionalisme guru dari perspektif etik dan kemanusiaan. Ia menegaskan bahwa kompetensi pedagogik tidak akan bermakna tanpa integritas dan hati nurani.
“Ilmu tanpa hati berpotensi melahirkan proses pembelajaran yang mekanistik. Materi tersampaikan, tetapi pemaknaan tidak bertumbuh; capaian terukur, namun karakter tidak terbangun,” ungkapnya.
Baca Juga: Kompensasi Dibayar, Palang Dipasang Kembali: PT Gistec Siap Tempuh Jalur Hukum
Menurut Yosefina, mendidik dengan hati berarti menjaga martabat peserta didik, membangun ruang belajar yang aman dan inklusif, serta menjadikan keteladanan sebagai fondasi pendidikan karakter.