Idenusantara.com - Sejak awal januari 2023, Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Ende telah menangani 4 perkara kasus pencabulan dan persetubuhan anak di bawah umur.
Kapolres Ende AKBP Andre Librian melalui Kasat Reskrim Polres Ende Iptu Yance Yauri Kadiaman mengatakan bahwa Kabupaten Ende rawan dengan kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan.
Iptu Yance menjelaskan, selama bulan Januari 2023, Unit PPA Polres Ende telah melakukan penyidikan terhadap 4 tersangka kasus pencabulan persetubuhan anak dan dari 4 kasus tersebut ketiganya adalah korban anak dan yang satunya adalah korban dewasa.
Baca Juga: Angka Kematian Ibu dan Anak di Provinsi NTB Terus Menurun
"Untuk tersangka inisial (EN),(GS) dan inisial (R) korbannya anak dibawah umur sedangkan untuk tersangka inisial (AJL) korban dewasa", ucap Iptu Yance, Selasa(31/1/2023).
Ironisnya, menurut Iptu Yance, rata-rata korban dan tersangka masih memiliki hubungan keluarga bahkan ada hubungan ayah kandung dan anak kandung.
Iptu Yance pun menghimbau kepada seluruh orang tua dan masyarakat, untuk mengawasi serta mengontrol setiap kegiatan anak-anaknya di rumah maupun diluar rumah.
Baca Juga: BPS NTB Sebut Taraf Pendidikan Antar Generasi di NTB Terus Meningkat
"Mari sama-sama mengontrol serta mengawasi anak-anak kita baik dirumah maupun di luar rumah. Tujuannya, agar anak kita tidak terjerumus ke dalam kegiatan-kegiatan yang dapat merugikan anak kita maupun anak orang lain," imbuhnya.
Berdasarkan data yang diperoleh, kasus pertama terjadi di Desa Wolokelo, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende dengan korban inisial MDM (12 tahun ) dimana tersangka inisial (EN) melakukan persetubuhan sebanyak 5 kali sejak tahun 2019 sampai dengan bulan Mei 2022 di dalam kamar korban (hubungan antara korban dan tersangka yaitu hubungan ayah kandung dengan anak kandung).
Untuk kasus kedua terjadi di Desa Kebirangga dengan korban ZB ( 14 tahun ) dimana tersangka inisial R melakukan persetubuhan sebanyak 3 kali sejak tanggal 15 Mei 2021 sampai dengan tanggal 07 Juni 2022, bertempat dirumah tersangka. Tersangka melakukan tipu muslihat dengan cara tersangka mengatakan bahwa tersangka sayang kepada korban dan tersangka memberikan uang Rp. 200.000,- dengan alasan untuk memperbaiki HP korban dan memberikan lagi uang Rp.100.000 untuk uang jajan korban. (korban merupakan keponakan kandung dari tersangka.tersangka inisial R).
Baca Juga: Pekerja Bengkel di Papua Jadi Korban Serangan KKB
Sementara kasus ketiga terjadi Kecamatan Kotabaru, dengan korban inisial AJ ( 25 tahun ) dimana tersangka inisial AJL melakukan pencabulan sebanyak 1 kali pada hari Sabtu tanggal 21 Januari 2023 dengan cara mendatangi rumah korban. (tersangka merupakan adik ipar kandung dari korban).
Kasus keempat dengan Korban inisial MHGS (14 tahun) dimana tersangka inisial GS melakukan pencabulan sebanyak 1 kali pada hari Minggu tanggal 29 Januari 2023. (Tersangka merupakan tetangga dari korban).