Tradisi Gereja juga mencatat peristiwa-peristiwa serupa. Santo Thomas Aquinas, Pujangga Gereja yang agung, pernah didengar berbicara dengan seseorang di dalam selnya. Atas desakan atasannya, ia menjelaskan bahawa Santo Petrus menampakkan diri kepadanya untuk membantunya menyelesaikan suatu karya teologi. Menarik juga untuk dicatat bahawa menjelang wafatnya, St. Thomas sendiri menerima sebuah penglihatan—dalam mimpi seorang frater Dominikan—yang menghiburnya mengenai karya tafsirnya atas surat-surat Santo Paulus.
Namun, Gereja juga mengingatkan kita dengan tegas: segala bentuk upaya untuk mengontak orang mati melalui ilmu gaib, pemanggilan roh, atau medium dilarang keras. Kitab Suci dengan jelas melarang praktik nekromansi (Ulangan 18:10-12). Larangan ini bukan kerana Gereja ragu akan keberadaan dunia roh, tetapi untuk melindungi kita dari tipu daya roh jahat yang dapat menyamar sebagai "malaikat terang" (2 Korintus 11:14).
Baca Juga: Kisah PONTIUS PILATUS: Tokoh di Balik Penyaliban Yesus
4. Bagaimana Menyikapi Mimpi yang Membawa Pesan?
St. Thomas Aquinas, dalam Summa Theologiae, memberikan kerangka yang sangat membantu untuk memahami mimpi. Beliau mengidentifikasi empat penyebab mimpi:
1. Penyebab internal yang berasal dari aktiviti mental—fikiran dan ingatan yang kita bawa sebelum tidur.
2. Penyebab internal yang berasal dari kondisi fisikal tubuh—keadaan kesihatan atau sensasi fisikal.
3. Penyebab eksternal yang bersifat jasmani—pengaruh lingkungan sekitar.
4. Penyebab spiritual—Tuhan, malaikat, atau iblis.
Dari sini, St. Thomas menyimpulkan bahawa mimpi yang berasal dari Tuhan selalu disertai dengan tanda-tanda yang jelas—damai sejahtera, kesesuaian dengan iman Gereja, dan buah-buah rohani yang baik. Sebaliknya, mimpi yang berasal dari iblis akan membawa kegelisahan, kebingungan, dan menjauhkan kita dari Tuhan dan Gereja.
5. Makna Spiritual: Penghiburan dan Panggilan Doa
Ketika kita mengalami mimpi tentang orang yang telah meninggal—apalagi dengan pakaian putih—kita melihat ini sebagai anugerah penghiburan dari Tuhan yang penuh belas kasih.
Seperti yang ditulis oleh Mark Shea dalam National Catholic Register, banyak umat beriman menerima tanda-tanda penghiburan dari Tuhan melalui orang yang mereka kasihi. Seorang anggota keluarganya yang sakit parah bermimpi didatangi seorang bayi perempuan—yang telah meninggal beberapa tahun sebelumnya—dan mendengar kata-kata, "Aku akan kembali menjemputmu pada hari Selasa." Ia meninggal pada hari Selasa.
Pengalaman-pengalaman seperti ini, meskipun tidak termasuk dalam depositum fidei (ajaran imi yang wajib diyakini), dapat menjadi sarana di mana Tuhan menunjukkan kasih-Nya yang lembut kepada kita yang sedang berduka.
Yang terpenting adalah: jangan biarkan pengalaman ini menjauhkan kita dari iman yang sederhana dan doa. Doakanlah arwah orang yang telah meninggal. Persembahkanlah Ekaristi bagi mereka. Dalam persekutuan para kudus (communio sanctorum), kita tetap terhubung dengan mereka—bukan melalui ilmu gaib, tetapi melalui doa dan korban Kristus.