religi

Misionaris Cinta Kasih dan Tokoh Pembangunan Itu Telah Pergi Untuk Selamanya, Simak Berikut Kisah Karya Pater Stef Wrosz di Tanah Manggarai!

Kamis, 27 Februari 2025 | 21:55 WIB
Pater Stef Wrosz, SVD (Foto: Docpri. P. Stef)

Usai menghabiskan waktunya dengan melayani umat katolik di Manggarai ia melihat perubahan kehidupan umat yang jauh lebih baik bila dibandingkan tahun 1966 ketika mereka pertama kali ke Manggarai.

"Sekarang di Manggarai sangat maju, tidak lagi ada bencana kelaparan, semua orang sudah makan nasi, dulu makan jagung makan ubi, terus akses ke kesehatan sangat mudah, jalan-jalan sudah dibangun sampai ke desa-desa, sekolah-sekolah sudah tersebar hingga ke pelosok, ini yang harus disyukuri," ungkap pater Stef.

Dari sisi pelayanan kepada umat Katolik menurut misionaris kelahiran Eropa ini saat ini Manggarai Jauh lebih baik bila dibandingkan tahun-tahun awal mereka merintis tugas kegembalaan di tanah Manggarai.

Ia mengatakan infratruktur jalan yang sudah dibangun hingga ke pelosok-pelosok memudahkan para imam dalam melakukan pelayanan ke stasi-stasi.

"Dulu kami naik kuda, melakukan patroli ke wilayah stasi, menyusuri jalan sempit tidak seperti sekarang," kisah pater Stef Wrosz SVD.

Baca Juga: Komitmen Melki-Johni Setelah Pelantikan; Siap Jadi Pelayan dan Kerja Maksimal untuk Masyarakat NTT

Kondisi patroli dengan menggunakan kuda sebagai alat transportasi itu juga disampaikan pater Stanis Ograbek SVD dalam bukunya.

Stanis Ograbek yang sempat diperbantukan di paroki Mukun kala itu mengatakan di wilayah paroki biasanya terdapat seorang anak yang khusus memelihara dan mengurusi kuda.

Anak ini biasanya selalu menemani pastor ketika melakukan patroli, tugas utamanya adalah mengurusi kuda tunggangan pastor termasuk kuda pengangkut beban.

"Jika pastor melakukan patroli ke suatu kampung anak ini bertugas memandu jalannya kuda sang pastor dengan kuda pengangkut bebannnya," kata pater Stanis Ograbek dalam bukunya.

Untuk melakukan patroli di wilayah paroki Mukun kala itu pastor paroki Frans Galis kerap menggunakan dua buah peti yang diangkut menggunakan kuda.

"Peti ini seringkali dianggap sebagai tempat untuk menaruh anak kecil oleh warga, makanya ketika melihat pastor anak-anak berlarian karena takut," tulis Pater Stanis.

Ia mengatakan padahal yang ada dalam peti yang diangkut menggunakan kuda itu merupakan barang-barang kebutuhan pelayanan untuk umat seperti hosti anggur termasuk kebutuhan obat-obatan.

Dari sekian banyak misionaris yang bertugas di Manggarai seperti Frans Galis SVD, Pater Yurai Voyencyak SVD, pater Jan Olesky SVD memilih kembali ke negaranya ketika memasuki masa pensiun.

Kendati demikian ada pula pastor yang enggan kembali termasuk pater Stef Wrosz SVD, yang lebih memilih Manggarai sebagai tempat menghabiskan masa tuanya.

Halaman:

Tags

Terkini

BENARKAH KITAB SUCI KATOLIK DIUBAH

Rabu, 8 April 2026 | 08:06 WIB

LOGOS ILAHI: FIRMAN YANG MENJADI MANUSIA

Rabu, 8 April 2026 | 08:01 WIB

Mengapa Disebut JUMAT AGUNG

Sabtu, 4 April 2026 | 15:22 WIB

APAKAH SINTERKLAS SUNGGUH ADA?

Sabtu, 6 Desember 2025 | 21:30 WIB