Pater Stef Wrosz bersama 20 misionaris muda ordo Serikat Sabda Allah lainnya merupakan kelompok misionaris pertama yang diberangkatkan dari Polandia ke Indonesia secara resmi.
Beberapa rekan imam yang ikut dalam perjalanan kala itu yakni pater Stanis Wyparlo SVD, Pater Stanis Ograbek SVD dan masih banyak imam lainnya.
Pater Stanis Ograbek SVD dalam bukunya berjudul "Demi Kebenaran Bertualang di Ladang Tuhan" mengisahkan bagaimana perjalanan kelompok misionaris Eropa ini hingga akhirnya tiba di Indonesia.
Usai mengurus dokumen keberangkatan mereka berupa paspor, 20 orang misionaris dari serikat sabda Allah itu meninggalkan Ibu Kota negara Polandia Warsawa pada sekitar pukul 18.00 melewati pegunungan Alpen menggunakan kereta api menuju Roma kala itu.
Mereka tiba di Indonesia setelah melewati perjalanan jauh, melewati Roma dan transit di India sebelum akhirnya mendarat di Jakarta.
Setelah tiba di Jakarta mereka dikirim ke keuskupan Agung Ende untuk belajar bahasa sebelum akhirnya diberi tugas melayani di paroki-paroki.
Setelah dirasa bisa menguasai bahasa Indonesia para misionaris muda ini dipindahkan ke keuskupan Ruteng sementara beberapa orang diantara mereka melayani paroki di wilayah keuskupan agung Ende, sementara yang lainnya diutus ke pulau Timor.
"Kami naik truk kayu, dengan kondisi jalan berbatu menuju Ruteng, ini merupakan perjalanan yang menyenangkan bagi kami karena kondisi bentang alam Flores yang berbukit-bukit kami senang," tulis pater Stanis Ograbek dalam bukunya Demi Kebenaran berkarya di Ladang Tuhan.
Baca Juga: Cinta Akan Rakyatnya, Sherly Tjoanda Siap Melanjutkan Perjuangan Suami
Stanis Ograbek mengatakan bahwa perjalanan mereka ke keuskupan Ruteng sempat singgah di beberapa tempat termasuk melakukan pendakian ke puncak gunung Ebulobo.
"Kami menginap di rumah salah seorang guru agama yang sangat baik dan ramah menerima kami, keesokan harinya kami melakukan pendakian ke puncak gunung Ebulobo dengan bantuan beberapa orang anak kecil," tutur Pater Stanis Ograbek.
Ia merasa senang dengan kondisi alam Flores yang masih sangat asri meski terdapat kekurangan terutama kondisi masyarakat yang masih belum maju seperti di Eropa kala itu.
Dalam tayangan youtube SEKRETARIAT PUSPAS Saat di wawancarai Pater Stef Wrosz mengungkapkan bahwa kondisi masyarakat di Manggarai pada saat mereka tiba pertama kali masih memprihatinkan.
"Kelaparan dimana-mana, penyakit juga kerap melanda umat dengan akses ke pusat kesehatan sangat terbatas," kata pater Stef Wrosz.