Dalam kepergiannya, Paus Fransiskus meninggalkan pesan:
Jika engkau ingin menemukan Tuhan, pergilah ke hutan.
Dengarkan suara daun.
Di sana, semesta sedang berdoa.
Filosofi spiritual Paus Fransiskus yang paling agung:
Cinta adalah hukum tertinggi.
Bukan cinta yang pasif dan manis, melainkan cinta yang membasuh kaki yang kotor,
yang menjahit luka bumi,
yang memulangkan mereka yang terbuang ke pelukan Tuhan.
Baginya, agama bukan menara gading bagi para suci,
tetapi tenda terbuka bagi para pendosa, pengungsi,
pecinta bumi, dan pencari makna.
Ia buka pintu bagi yang tertolak: imigran lelah yang mengangkut duka,
LGBT yang rindu dipeluk surga,
dan iman lain yang haus cahaya. Mereka diundang
semua duduk setara di meja cinta.
Baca Juga: Termasuk Manggarai Timur Kompak Dukung Sekolah Rakyat Pemda Siap Sediakan Lahan dan Tenaga Pengajar
Ketika kabar wafatnya Paus menggema,
lonceng berdentang di Basilika Santo Petrus.
Namun gema cintanya terdengar jauh lebih luas:
di kamp pengungsi, di hutan yang dibakar,
di pelukan pasangan yang dulu tersembunyi dari altar.
Ia bukan sekadar gembala Katolik.
Ia adalah imam dunia,
yang menyatukan doa dalam berbagai bahasa
dan air mata dalam segala warna.
Di Jakarta punya kenangan sendiri soal Paus Fransiskus. Itu malam 4 September 2024, di depan Galeri Nasional.
Mobil Paus melambat.
Jendela terbuka.
Seorang perempuan mendekat, membawa lukisan saya:
Paus membasuh kaki rakyat Indonesia.
Perempuan itu Pendeta Sylvana Maria Apituley, dari Papua.
Dengan gemetar, ia serahkan lukisan itu.
Paus memberkatinya—
dan Jalan Merdeka menjadi altar jalanan.
Lukisan itu, yang dulu hanya kanvas dan warna, kini menjadi relik.
Sylvana menulis keesokan harinya:
“Aku menangis bahagia… tak mau cuci tangan.”