Batuan jenis rijang dan tula kersikan adalah bahan dasar yang paling banyak ditemukan, sehingga dikemukakan sebagai bahan yang paling sering digunakan.
Temuan artefak batu tersebut terdiri dari alat masif dan alat serpih. Alat masif yang ditemukan di antaranya seperti kapak perimbas dan katak penetak, yang ditemukan pada lapisan atas yang mengandung blok batu gamping.
Baca Juga: Sejarah Danau Rana Mese di Manggarai Timur NTT
Sedangkan, alat serpih adalah temuan artefak yang paling dominan, meliputi serut, lancipan, dan gurdi. Selain itu, artefak batu yang ditemukan berupa beberapa buah batu pukul yang berasal dari batuan andesit.
Eksistensi Homo floresiensis ini dipercaya berada pada masa peralihan antara homo erectus dan homo sapiens. Di mana Homo erectus termuda berusia sekitar 300 ribu hingga 100 ribu tahun yang lalu. Sedangkan Homo sapiens termuda berusia sekitar 20 ribu hingga 13 ribu tahun lalu. Sehingga diperkirakan Homo floresiensis hidup sekitar tahun 10.000 hingga 18.000 tahun yang lalu.
Homo floresiensis dianggap sebagai manusia pendukung kebudayaan neolithikum di NTT. Salah satu buktinya dengan adanya artefak yang ditemukan disekitar fosil Homo floresiensis masih berupa kapak persegi, kapak lonjong, tembikar, perhiasan, dan mata panah. Alat-alat tersebut merupakan tekonologi masa litik yang menjadi artefak kehidupan homo floresiensis pada masanya.
Baca Juga: Natas Labar Kota Ruteng Dijuluki Sebagai Tempat Jatuh Cinta
Adanya tembikar pada kebudayaan Homo floresiensis membuktikan bahwa mereka telah mengenal wadah untuk penyimpanan makanan sebagai persediaan makanan dalam beberapa bulan.
Homo Floresiensis hidup menetap di Gua Liang Bua sebagai tempat singgah dalam menghadapi ancaman hewan buas, perubahan iklim dan cuaca, serta tempat untuk persiapan berburu.
Manusia Flores ini dipercaya sebagai asal usul nenek moyang masyarakat Flores yang dikenal dengan sebutan Ebu Gogo menurut tradisi lisan disana.
Sistem kebudayaan Homo floresiensis telah mengenal berburu, beternak, dan bercocok tanam untuk mencari makanan. Mereka mengunakan alat-alat tradisional dari tulang, batu, dan kayu berbentuk lancip yang membantu mereka dalam berburu. Tak hanya itu, manusia Flores ini juga telah memiliki keterampilan dalam membuat pakaian dari kulit hewan dan gerabah sederhana.
Artikel Terkait
Menguak Fakta Liang Bua, Rumah Hobbit dari Flores
Sejarah Wae Rebo, Kampung Adat Misterius di Kabupaten Manggarai