Proyek ini juga lanjutnya, memicu kekhawatiran akan kualitas jalan nasional yang dihasilkan dan menjadi tanda tanya besar terkait transparansi dan akuntabilitas pelaksanaannya. Apakah proyek ini benar-benar sudah sesuai dengan standar yang ditentukan?
"Saya minta APH, Kejati NTT atau KPK segera usut proyek ini,” katanya.
Diduga mengurangi volume
Dihimpun dari berbagai informasi proyek PT AKAS asal Surabaya ini diduga mengurangi spek pekerjaan, yaitu pemasangan U-Ditch Beton yang tidak dikerjakan kurang lebih satu kilo meter dan rabat pada bahu jalan.
"Ada beberapa item yang tidak dikerjakan oleh PT AKAS, seperti pemasangan U-Ditch (saluran air atau drainase) di salah satu ruas jalan di kota labuan bajo dan rabat pada bahu jalan" Ujarnya
Pecahan aspal di badan jalan ini berusaha ditutup PT. AKAS dengan aspal cair namun pecahan tersebut kembali pecah dan melebar hingga belasan cm. Pecahan ini terjadi hampir di seluruh permukaan badan jalan.
Sementara itu Direktur PT Akas bernama Robert, sudah dikonfirmasi beberapa kali oleh media ini melalui WhatsApp belum lama ini enggan merespon pertanyaan wartawan. Hingga saat ini Robert belum memberikan penjelasan terkait proyek senilai Rp125 miliar yang diduga bermasalah. Robert memilih bungkam alias diam seribu bahasa.
Dari sumber terpercaya dan data yang ditemukan di lapangan, Proyek ruas jalan nasional Labuan Bajo - Malawatar - Batas kota Ruteng, negara diduga mengalami kerugian capai puluhan miliaran rupiah.
PT Akas juga tidak membayar upah pekerja warga setempat, baik upah kerja maupun uang metarial.
Berkualitas buruk serta diduga merugikan negara miliaran rupiah, siapa dibalik proyek PT Akas yang menelan APBN Rp 125 miliar ini.
Edisi Selanjutnya.....