nasional

Pintar Saja Tidak Cukup, Asta Sembiring Tantang PMKRI Lahirkan Pemimpin Berintegritas

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:52 WIB
Pintar Saja Tidak Cukup, Asta Sembiring Tantang PMKRI Lahirkan Pemimpin Berintegritas

IDE NUSANTARA.COM — Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Namun, bangsa ini masih membutuhkan pemimpin yang berintegritas, berani secara moral, dan konsisten memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Ir. Asta Ivo Bonny Sembiring, S.T., Project Director Perum Perumnas Samesta Pasadana Bandung, saat membawakan materi dalam kegiatan Pekan Orientasi Fungsionaris (POF) Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI) Santo Thomas Aquinas periode 2026–2028, Jumat (16/10/2026).

Dalam materi bertajuk Navigating Adaptive Leadership Amid Waves of Disruption, Asta menegaskan bahwa kepemimpinan tidak cukup diukur dari kecerdasan, jabatan, ataupun kemampuan berbicara.

Baca Juga: Lansia Berpeluang Dapat PKH Rp600 Ribu per Tahap, Ini Daftar Bansos Oktober 2026

Seorang pemimpin harus mampu menunjukkan keselarasan antara nilai yang diyakini, keputusan yang diambil, dan tindakan yang dilakukan.

“Yang dicari saat ini bukan orang yang hanya pintar saja, tetapi orang yang mempunyai integritas,” tegas Asta di hadapan para fungsionaris PP PMKRI.

Menurutnya, tantangan tersebut menjadi refleksi penting bagi PMKRI sebagai organisasi kader.

PMKRI kata dia, tidak cukup hanya mengambil posisi sebagai mitra kritis dan strategis pemerintah, tetapi juga harus memastikan bahwa proses kaderisasi mampu melahirkan manusia berkarakter, berjiwa Katolik, serta berani memperjuangkan kebenaran dan keadilan.

Baca Juga: Polres Manggarai Didesak Segera Naikkan Status Kasus Pengeroyokan Arnoldus Bembot Pascapilkades Ranaka ke Penyidikan

“Tugas kita yang paling penting adalah melahirkan pendidikan kaderisasi yang di dalamnya terdapat jiwa kekatolikan itu sendiri,” ungkapnya.

Asta menekankan, nilai dasar PMKRI, yakni Kristianitas, Fraternitas, dan Intelektualitas, harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar menjadi semboyan organisasi.

Karena itu, kaderisasi harus membentuk pemimpin yang kritis sekaligus solutif, mampu menjaga independensi organisasi, serta menempatkan martabat manusia di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

Baca Juga: Gaji PNS Bakal Lewat Kopdes Merah Putih pada 2026? Ini Pernyataan Terbaru Menteri Koperasi

Dalam pemaparannya, Asta juga mengangkat kearifan lokal sebagai landasan membangun kepemimpinan yang adaptif dan membumi.

Ia memperkenalkan falsafah Siliwangi dari tradisi Sunda serta nilai-nilai budaya masyarakat Karo, seperti Endi Enta, Runggu, Ngeripe, dan Aron.

Nilai-nilai tersebut mengajarkan pentingnya solidaritas, musyawarah, gotong royong, serta orientasi kepemimpinan yang tidak hanya berfokus pada kepentingan saat ini, tetapi juga mempertimbangkan masa depan.

Menurut Asta, nilai-nilai budaya Nusantara itu relevan diterapkan dalam kehidupan organisasi, termasuk dalam menjalankan pola kepemimpinan kolektif-kolegial di tubuh PMKRI.

Baca Juga: Cara Daftar Agen Perlinsos Kemensos 2026 secara Online, Simak Langkahnya

Pola tersebut tidak akan berjalan optimal apabila pengurus hanya mengandalkan jabatan dan pembagian tugas formal. Setiap fungsionaris perlu mengambil tanggung jawab secara nyata, menghargai perbedaan pandangan, dan mendahulukan kepentingan organisasi.

Selain itu, transparansi dan integritas menjadi fondasi penting untuk menjaga kepercayaan publik sekaligus mempertahankan independensi organisasi.

Keterbukaan dalam komunikasi, pengambilan keputusan, hingga pengelolaan organisasi diperlukan agar sikap kritis PMKRI terhadap persoalan bangsa memiliki landasan moral yang kuat.

“Kepemimpinan yang baik harus dibangun melalui transparansi,” ujar Asta.

Baca Juga: Kapan TPG Triwulan III 2026 Cair? Simak Sinyal Terbaru dan Tahapan Pencairan Tunjangan Guru

Adaptif Tanpa Kehilangan Prinsip

Menghadapi perubahan sosial, politik, ekonomi, dan perkembangan teknologi, Asta mengingatkan pentingnya kepemimpinan adaptif.

Menurutnya, pemimpin harus mampu mengevaluasi kesalahan, memperbaiki strategi, dan menyesuaikan cara kerja dengan perkembangan zaman.

Namun, kemampuan beradaptasi tidak boleh membuat seorang pemimpin kehilangan prinsip dan nilai dasar perjuangannya.

Adaptif, dalam konteks ini, berarti terbuka terhadap perubahan sekaligus tetap berpegang pada integritas, keadilan, dan kepentingan bersama.

Bagi PP PMKRI periode 2026–2028, pelaksanaan POF diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kualitas kaderisasi, soliditas internal, dan konsistensi arah gerakan organisasi.

Baca Juga: Mau Kerja di Bidang Pendidikan? Heka Leka Buka Lowongan di Ende dan Sikka hingga 24 Oktober

Regenerasi kepemimpinan, menurut pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, tidak boleh berhenti pada pergantian jabatan.

Proses itu harus menghasilkan kader yang mampu memahami persoalan masyarakat, menawarkan gagasan yang jernih, dan menghadirkan solusi melalui tindakan nyata.

Menutup pemaparannya, Asta menitipkan tiga pesan kepada para fungsionaris PP PMKRI: tetap berjuang, terus berkembang, dan jangan pernah menyerah.

Pesan itu sekaligus menegaskan bahwa tantangan PMKRI bukan sekadar mencetak kader yang cerdas membaca perubahan, melainkan membentuk pemimpin yang berintegritas, berani mengambil sikap, dan konsisten memperjuangkan keadilan, kemanusiaan, serta kesejahteraan bersama.***

Laporan: Risaldua Pan

Tags

Terkini