Ia juga menyebutkan peran penting matematika dan literasi numerasi untuk membantu masyarakat memahami data, mengidentifikasi misinformasi statistik, dan mendorong kebijakan berbasis bukti.
"Melawan post-truth tidak bisa dilakukan sendirian. Kita harus membangun ekosistem informasi yang sehat, transparan, dan akuntabel," tegasnya.
Melalui seluruh rangkaian orasi dan seminar ilmiah tersebut, Unika Santu Paulus Ruteng menegaskan posisinya sebagai kampus yang tidak hanya mencetak sarjana, tetapi juga garda intelektual yang siap menjaga kebenaran publik.
Menjelang prosesi wisuda pada Sabtu (6/12), universitas ini memperbarui komitmennya untuk menghasilkan lulusan yang mampu berdiri tegak menghadapi manipulasi digital, paham etika informasi, kreatif dalam berkarya, dan berani membela kebenaran.
Di tengah dunia yang semakin kehilangan kompas moral akibat derasnya informasi yang bias, Unika Ruteng menempatkan dirinya di garis depan: memastikan bahwa setiap lulusan membawa cahaya nalar yang jernih untuk menerangi ruang sosialnya. Dengan bekal literasi kritis dan integritas akademik, 1.304 wisudawan ini diharapkan menjadi agen perubahan yang mampu melawan manipulasi dan kebodohan digital yang kian mengancam masa depan bangsa.
Artikel Terkait
Ruas Jalan Nasional Berkualitas Buruk,PPK 4.2 Saur Turnip: 15 Tahun Tak Dapat Anggaran, Berikut Respon Kejati NTT
Prabowo Turun Langsung Temui Korban Banjir Sumut Disambut Isak Tangis Pengungsi
Korban Banjir Sri Lanka Tembus 330 Jiwa dan Sudah Darurat Nasional, Lalu Mengapa Indonesia Masih Menunda?
Ironi Smart TV Bantuan Prabowo Untuk SDI Compang Ngeles Terhambat Internet dan Infrastruktur
Cara Mengatasi Stres yang Mudah dan Efektif Alodokter
Empat Kampung Hilang Disapu Banjir, Gubernur Aceh Mualem Menangis ‘Aceh Seperti Tsunami Kedua’