Unika Ruteng Bekali Ribuan Wisudawan untuk Melawan Manipulasi dan Kebodohan Digital

photo author
Gordianus Jamat, Ide Nusantara
- Kamis, 4 Desember 2025 | 17:16 WIB
Unika Santu Paulus Ruteng menggelar Orasi dan Seminar Ilmiah Wisuda Periode Desember 2025 (Foto : Gordi Jamat)
Unika Santu Paulus Ruteng menggelar Orasi dan Seminar Ilmiah Wisuda Periode Desember 2025 (Foto : Gordi Jamat)

Baginya, inovasi tidak akan pernah lahir dari pikiran yang pasif, melainkan dari keberanian bertanya dan kemampuan berpikir mandiri.

Baca Juga: 66 Mahasiswa UNIKA Ruteng Ikuti Olimpiade Matematika, Wadah Uji Kemampuan dan Semangat Kompetitif

Melengkapi perspektif itu, Ferdinan Hindiarto, dosen Psikologi UNIKA Soegijapranata Semarang, hadir secara daring dan memberikan metafora kuat tentang pentingnya menjadi "lilin kebenaran". 

Dalam situasi dunia yang digelapkan oleh manipulasi dan opini tanpa dasar, Ferdinan mengajak para lulusan untuk menjadi cahaya kecil yang memberi arah. 

"Lilin itu kecil, tetapi ia mengalahkan gelap. Begitu pula seorang manusia kritis: satu sikap berintegritas saja mampu mengubah ruang sosial," katanya. 

Ia mengingatkan bahwa etika digital dan empati sangat penting di era informasi penuh tekanan sosial, di mana orang bisa dengan mudah kehilangan identitas intelektualnya karena ingin mengikuti suara mayoritas.

Suara kritis berikutnya datang dari Dr. Hendrikus Midun, S.Fil., M.Pd., yang menekankan bahwa masyarakat modern semakin mudah terseret oleh narasi yang menggugah emosi ketimbang data empiris. 

Baca Juga: Memupuk Literasi Sejak Dini, Mahasiswa KKN Unika St. Paulus Ruteng Membiasakan Literasi di SDI Kakor

Ia menyebut bahwa manipulasi sering hadir dalam bentuk cerita, slogan, dan simbol yang menyentuh perasaan sehingga membuat publik lengah terhadap kebenaran. 

Hendrikus menegaskan pentingnya membangun resiliensi sosial sebagai kemampuan individu dan komunitas untuk tetap rasional di tengah turbulensi informasi. 

Menurutnya, penguatan karakter dan etika komunikasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak agar masyarakat tidak semakin terseret ke jurang fragmentasi.

Dalam sesi penutup, Dr. Maximus Tamur memberikan analisis strategis mengenai pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi fenomena post-truth. 

Ia menegaskan bahwa tidak ada institusi yang kebal terhadap hoaks, termasuk pemerintah, media, lembaga pendidikan, bahkan komunitas agama. 

Maximus menekankan perlunya kolaborasi dalam bentuk pertukaran data, publikasi ilmiah yang lebih komunikatif, dan jejaring antarlembaga yang saling menguatkan. 

Baca Juga: Sinergi dan Kolaborasi Mahasiswa KKN Unika dan Rumah Literasi Tingkatkan Minat Baca Anak di Manggarai

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Gordianus Jamat

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X