OTTO GUSTI MADUNG,SVD : REKTOR IFTK LEDALERO - Filsuf Flores yang Memimpin Transformasi IFTK Ledalero

photo author
Ejhy Serlesnso, Ide Nusantara
- Rabu, 18 Maret 2026 | 08:24 WIB
Dr. Otto Gusti Madung-Rektor IFTK Ledalero
Dr. Otto Gusti Madung-Rektor IFTK Ledalero

Kepemimpinan di Ledalero

Karier kepemimpinan Otto Gusti Madung di dunia akademik dimulai ketika ia dipercaya menjadi Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero pada tahun 2018. Pada tahun 2022, ketika STFK Ledalero bertransformasi menjadi institut, ia dilantik sebagai Rektor IFTK Ledalero. Pada tahun 2023, di bawah kepemimpinannya, IFTK Ledalero juga menggelar wisuda pertama sebagai institut dengan ratusan lulusan dari berbagai program studi.

Suara Moderasi dan Dialog Antaragama

Selain sebagai akademisi, Otto Gusti Madung juga dikenal sebagai tokoh yang konsisten menyuarakan pluralisme dan dialog antaragama. Beliau menegaskan bahwa pendidikan di Ledalero terbuka bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang agama. Bahkan ia secara terbuka menyatakan bahwa mahasiswi yang memakai jilbab juga dipersilakan untuk kuliah di IFTK Ledalero.

Sikap ini menunjukkan komitmennya terhadap nilai inklusivitas, toleransi, dan penghormatan terhadap keberagaman di Indonesia.

Baca Juga: Usut Korupsi BUMN, Kejagung Diminta Periksa PT. Adhi Karya dan PPK Proyek BBWS Nusa Tenggara II Pada Paket I dan 2

Guru Besar Filsafat Politik

Pada tahun 2026, Otto Gusti Madung mencapai tonggak akademik penting ketika ia resmi memperoleh gelar Profesor atau Guru Besar dalam bidang Filsafat Politik.

Pencapaian ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi dirinya, tetapi juga bagi komunitas akademik Ledalero dan masyarakat Nusa Tenggara Timur. Pengangkatan tersebut menegaskan kontribusinya dalam pengembangan pemikiran filsafat politik di Indonesia.

Pemikiran dan Warisan Intelektual

Sebagai filsuf, Otto Gusti Madung menaruh perhatian besar pada beberapa isu utama:

1. Demokrasi deliberatif
Ia terinspirasi oleh pemikiran Habermas bahwa demokrasi harus dibangun melalui dialog rasional di ruang publik.

2. Post-sekularisme
Ia menekankan bahwa agama tetap memiliki peran penting dalam kehidupan publik modern, tetapi harus hadir dalam bentuk dialog yang terbuka.

3. Toleransi dan pluralisme
Menurutnya, masyarakat multikultural seperti Indonesia membutuhkan etika politik yang menghormati perbedaan.

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ejhy Serlesnso

Tags

Rekomendasi

Terkini

X