OBORTIMUR.COM - Peran guru matematika di era digital kini tidak lagi sebatas menyampaikan materi pelajaran di ruang kelas. Perkembangan teknologi, perubahan karakteristik peserta didik, serta tuntutan dunia pendidikan yang semakin kompleks menuntut calon guru memiliki kompetensi yang jauh lebih luas dibandingkan sebelumnya. Mereka dituntut mampu berpikir kritis, menguasai teknologi digital, memahami konteks sosial budaya masyarakat, hingga memanfaatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam proses pembelajaran.
Isu tersebut mengemuka dalam Seminar Rutin Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santu Paulus Ruteng yang mengangkat tema "Transformasi Pembelajaran Matematika Berbasis Outcome-Based Education (OBE)", Sabtu (6/6/2026). Kegiatan yang diikuti sekitar 200 mahasiswa Pendidikan Matematika itu menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan kapasitas bagi para calon guru dalam menghadapi tantangan pendidikan abad ke-21.
Seminar menghadirkan lima narasumber yang membahas berbagai aspek penting transformasi pendidikan matematika, mulai dari rekonstruksi kurikulum, tantangan pembelajaran di sekolah, etnomatematika, transformasi digital, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan dalam pendidikan.
Ketua Program Studi Pendidikan Matematika Unika Santu Paulus Ruteng, Dr. Maximus Tamur, M.Pd., dalam sambutannya menegaskan bahwa perubahan yang terjadi dalam dunia pendidikan tidak bisa dihindari.
"Karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar untuk mempersiapkan calon guru yang mampu menjawab kebutuhan zaman," tegas Dr. Maximus.
Menurutnya, transformasi pembelajaran matematika harus menjadi perhatian utama agar lulusan yang dihasilkan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang terjadi di masyarakat.
"Transformasi pembelajaran matematika merupakan kebutuhan yang tidak dapat dihindari dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan tuntutan dunia pendidikan masa depan," jelas Dr. Maximus Tamur.
Baca Juga: Mahasiswa Unika Ruteng Buktikan Kualitas, Menang Kompetisi dan Direkrut Perusahaan Digital
Ia menjelaskan bahwa Program Studi Pendidikan Matematika berkomitmen menyiapkan lulusan yang memiliki kompetensi profesional sebagai pendidik abad ke-21.
"Tidak hanya menguasai konsep dan teori matematika, mahasiswa juga dibekali kemampuan memanfaatkan teknologi, memahami dinamika sosial budaya, serta mampu mengembangkan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan peserta didik," ujarnya.
Lebih lanjut, Dr. Maximus mengatakan bahwa seminar rutin yang diselenggarakan program studi merupakan bagian dari upaya memperluas wawasan mahasiswa terhadap berbagai isu strategis dalam pendidikan matematika.
"Seminar rutin ini menjadi bagian dari strategi program studi dalam memperluas wawasan mahasiswa mengenai berbagai isu aktual pendidikan matematika, mulai dari pengembangan kurikulum, pembelajaran di sekolah, etnomatematika, transformasi digital, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan dalam pendidikan," imbuhnya.
Salah satu isu utama yang mendapat perhatian dalam seminar tersebut adalah pentingnya rekonstruksi kurikulum pendidikan matematika agar mampu menjawab tantangan masa depan. Materi ini disampaikan oleh Dr. Kristianus Viktor Pantaleon, M.Pd. melalui topik "Rekonstruksi Kurikulum Pendidikan Matematika Masa Depan: Penguatan Komunikasi Matematis melalui OBE, Etnomatematika, dan AI."
Artikel Terkait
BGN Terapkan Efisiensi Distribusi MBG, Sistem Bundling Dihentikan
Lintas Iman di Iduladha: Gereja Katolik Indonesia Bagikan Sapi dan Kambing untuk Umat Muslim
Dari Kalikur WL, Lembata: 23 Ekor Kambing Tebar Harapan, Peternak Sambut Masa Depan Baru
Ave Maria Night: Gagasan 10 Tahun Lalu Berbuah Nyata, Ribuan Doa Menggema di Kaki Bunda Maria Teluk Gurita
Brasil Tampar Panama: Vinicius Buka Pesta, Tim Samba Kirim Kode Keras ke Rival Piala Dunia 2026
"Minggu Kasih" di Wogo: Polisi Polres Ngada Sambangi Jimi Longa, Anak Yatim yang 10 Tahun Jual Wortel Demi Sepiring Nasi