IDENUSANTARA.COM - Di tengah derasnya arus hoaks, bias informasi, dan meningkatnya kebodohan digital yang menggerus akal sehat publik, Unika Santu Paulus Ruteng mengambil langkah tegas dalam membekali ribuan wisudawannya dengan literasi kritis dan daya tahan intelektual untuk melawan manipulasi yang kian merajalela.
Komitmen itu ditegaskan dalam kegiatan Orasi dan Seminar Ilmiah Wisuda Periode Desember 2025 yang digelar di Aula Assumpta, Paroki Katedral Ruteng, Kamis (4/12), dan dihadiri 1.304 wisudawan bersama para dosen, pegawai, serta para pemateri lintas disiplin ilmu.
Dengan mengusung tema "Literasi Kritis dan Inovasi sebagai Kunci Transformasi di Era Post-Truth", kegiatan ini menjadi arena refleksi yang sarat gagasan untuk memperkuat kapasitas intelektual para lulusan sebelum dilepas ke masyarakat.
Sejak awal sesi, Wakil Rektor I Unika Santu Paulus Ruteng, Dr. Marselinus Ruben Payong, sudah mengingatkan bahwa generasi muda saat ini hidup dalam ruang digital yang sangat bising dan tidak selalu benar.
Ia menyebut bahwa platform media sosial kini menjadi sumber utama informasi bagi kelompok usia 18-24 tahun, menggeser televisi dan radio yang selama ini dianggap sebagai medium informasi lebih kredibel.
Pergeseran ini, menurutnya, tidak hanya membawa peluang bagi inovasi, tetapi juga membuka ruang luas bagi narasi manipulatif dan informasi yang menyesatkan.
Marsel menegaskan bahwa fakta kini tidak lagi cukup kuat untuk melawan konten emosional yang dikemas sedemikian rupa agar viral.
"Anak muda hidup dalam lanskap yang sangat cepat, tetapi tidak selalu akurat. Tugas perguruan tinggi adalah membekali mereka agar mampu memilah mana yang fakta dan mana yang manipulasi," ujarnya.
Ia menekankan bahwa literasi kritis harus menjadi inti dari seluruh proses pendidikan agar lulusan tidak menjadi korban dari arus kebodohan digital.
Baca Juga: BEM FKIP Unika Ruteng Gelar Seminar Inspiratif Jelang Hari Guru Nasional 2025
Orasi ilmiah utama yang dibawakan oleh Dr. Antonius Nesi, M.Pd., memperkuat pesan tersebut. Dalam paparannya, Antonius menggambarkan dunia post-truth sebagai ruang di mana emosi lebih dipercaya daripada fakta, dan opini personal lebih kuat daripada data.
"Di ruang seperti itu, masyarakat tanpa sadar terperangkap dalam echo chamber, sebuah lingkaran informasi yang hanya memantulkan keyakinan sendiri, sehingga mempersempit jangkauan nalar," bebernya.
Ia menegaskan bahwa literasi kritis bukanlah sekadar kemampuan membaca teks, melainkan kemampuan menilai validitas sumber, menangkap bias, memahami konteks, dan mengambil keputusan berdasarkan nalar sehat.
"Bangsa ini hanya bisa maju bila warganya menghargai kebenaran,"ujarnya.