Uskup Siprianus Hormat Pimpin Misa Ketiga Minggu Paskah di Katedral Ruteng, Bupati Manggarai Turut Hadir

photo author
Gordianus Jamat, Ide Nusantara
- Minggu, 5 April 2026 | 09:47 WIB
Uskup Keuskupan Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat, Pr memimpin misa ketiga Minggu Paskah di Gereja Katedral Ruteng (Gordi Jamat)
Uskup Keuskupan Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat, Pr memimpin misa ketiga Minggu Paskah di Gereja Katedral Ruteng (Gordi Jamat)

Maka tibalah juga Simon Petrus menyusul dia, dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kafan terletak di tanah, sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kafan itu, tetapi agak di samping, di tempat yang lain, dan sudah tergulung.

Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai ke kubur itu; ia melihatnya dan percaya. Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci, yang mengatakan bahwa ia harus bangkit dari antara orang mati.

Renungan: Menemukan Terang di Balik Kegelapan

Kisah kebangkitan dalam Injil Yohanes dimulai dalam keremangan. Maria Magdalena pergi ke kubur ketika “hari masih gelap.” Kegelapan ini bukan sekadar penanda waktu, melainkan gambaran batin para murid yang sedang diselimuti duka mendalam. Bagi mereka, penyaliban Yesus adalah titik akhir yang kelam. Namun, justru dalam kegelapan itulah, sebuah pergerakan baru dimulai: batu penutup kubur telah diambil.

Reaksi pertama manusia saat menghadapi yang tak terduga sering kali adalah kepanikan. Maria berlari dan berseru bahwa Tuhan telah “diambil orang.” Ia belum memahami bahwa kekosongan makam bukanlah sebuah pencurian, melainkan sebuah proklamasi kemandirian Allah atas maut. Petrus dan “murid yang dikasihi” kemudian berlari menuju makam tersebut. Perlombaan lari ini mencerminkan kerinduan manusia yang mendalam untuk menemukan kebenaran di tengah ketidakpastian.

Baca Juga: Umat Stasi Compang Ngeles Antusias Ikut Prosesi Jalan Salib Jumat Agung

Puncak dari perikop ini terletak pada apa yang mereka lihat di dalam kubur. Mereka tidak menemukan kekacauan, melainkan ketertiban. Kain kapan tergeletak di tanah, dan kain peluh yang tadinya di kepala Yesus tergulung rapi di tempat yang terpisah. Detail ini sangat penting; jika jenazah Yesus dicuri, pencuri tidak akan sempat merapikan kain-kain tersebut. Ketertiban di dalam makam menunjukkan bahwa Kristus bangkit dengan kedaulatan penuh.

Mengenai murid yang dikasihi, Yohanes mencatat: “Ia melihatnya dan percaya.” Menariknya, mereka percaya meskipun saat itu mereka “belum mengerti isi Kitab Suci.” Iman sering kali mendahului pemahaman intelektual. Mereka percaya karena mereka melihat bukti kasih Allah yang melampaui logika kematian. Kubur yang kosong menjadi saksi bisu bahwa kasih tidak bisa dipenjara oleh batu, dan hidup tidak bisa dihentikan oleh segel penguasa dunia.

Bagi kita hari ini, Yohanes 20:1-9 mengajak kita untuk memeriksa “kegelapan” dalam hidup kita sendiri. Sering kali kita merasa Tuhan “diambil” dari hidup kita saat kita mengalami penderitaan atau kehilangan. Namun, seperti makam yang kosong, situasi sulit tersebut bisa jadi adalah tempat di mana Tuhan sedang menyatakan kemuliaan-Nya yang baru. Kita dipanggil untuk “melihat” dengan mata iman untuk melihat melampaui apa yang tampak kosong dan mati untuk mempercayai bahwa Kristus senantiasa bekerja untuk memulihkan segala sesuatu.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Gordianus Jamat

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

BENARKAH KITAB SUCI KATOLIK DIUBAH

Rabu, 8 April 2026 | 08:06 WIB

LOGOS ILAHI: FIRMAN YANG MENJADI MANUSIA

Rabu, 8 April 2026 | 08:01 WIB

Mengapa Disebut JUMAT AGUNG

Sabtu, 4 April 2026 | 15:22 WIB

APAKAH SINTERKLAS SUNGGUH ADA?

Sabtu, 6 Desember 2025 | 21:30 WIB
X