Adapun materi evakuasi medis yang diberikan diantaranya adalah pertolongan pertama dan anatomi, penilaian dan pemeriksaan korban, pemindahan korban, penanganan korban cedera dan luka, RJP (resusitasi jantung paru) hingga terapi oksigen.
"Ini adalah salah satu kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh Tim SAR dari semua ilmu rescue, yakni pertolongan pertama (medical first responder), sebelum korban dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan," ujarnya.
Lanjutnya, simulasi ini bertujuan meningkatkan kesiapan dan koordinasi antar instansi dalam menghadapi potensi laka laut di wilayah Perairan Labuan Bajo, Manggarai Barat khususnya di kawasan Taman Nasional Komodo (TNK).
Baca Juga: Demi Keamanan Wisatawan, Polairud Polres Mabar Perketatkan Pengawasan Kapal Wisata di Labuan Bajo
Hal ini akan memberikan dampak positif bagi perkembangan wisata bahari di daerah itu. Apalagi, kawasan itu merupakan salah satu destinasi pariwisata super premium yang ramai dikunjungi oleh wisatawan. Oleh karenanya, keselamatan dan kenyamanan wisatawan merupakan hal yang harus diutamakan.
"Tujuannya agar meningkatkan kesiapsiagaan personil serta meningkatkan sinergi dengan instansi terkait dalam operasi penyelamatan orang yang terjatuh ke laut, sehingga dalam pelaksanaannya dapat sesuai dengan prosedur dan mekanisme yang ada," sebut Kasat Polairud.
Lebih lanjut, AKP Dimas juga menyampaikan bahwa simulasi ini dilaksanakan karena maraknya kejadian laka laut di Perairan Labuan Bajo. Tercatat sejak bulan Januari hingga Juli 2025 ada 5 kejadian laka laut.
Jumlah korban sebanyak 27 orang dengan rincian tanpa cedera 23 orang, luka-luka 3 orang dan 1 orang meninggal dunia.
"Kejadian laka laut memang banyak disebabkan oleh beberapa faktor, seperti cuaca, kelalaian manusia dan faktor lainnya. Diharapkan melalui simulasi ini, dapat meningkatkan kerja sama antarpotensi SAR agar penanganan laka laut lebih efektif dan efisien," ungkapnya.
Artikel Terkait
Kapolri Tunjuk Komjen Polisi Dedi Prasetyo sebagai Wakapolri