“Ini menjadi kritik bagi kami di pemerintahan agar selalu terbuka terhadap ruang dialog dan kritik dari masyarakat luas, termasuk dari kampus,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa gagasan akademik tidak boleh berhenti di ruang diskusi, tetapi harus diuji dalam realitas sosial, meskipun seringkali tidak mudah diterima.
“Kehadiran pemikir tidak boleh berhenti pada gagasan. Harus ditabrakkan dengan realitas sosial, walaupun sering tidak mudah diterima, baik oleh kelompok sendiri maupun pemerintah,” katanya.
Gubernur Melki turut menyinggung dinamika global sebagai contoh benturan gagasan dan kekuasaan, yang menurutnya juga terjadi hingga level lokal.
Lebih lanjut, ia mendorong IFTK Ledalero dan komunitas akademik untuk terus menghadirkan “pesan-pesan kenabian” melalui kajian ilmiah, serta memperkuat dialog antara iman, ilmu, dan realitas sosial-politik.
“Kami berharap tumbuh pemikir-pemikir yang peka terhadap persoalan kemanusiaan dan terus memberi kontribusi gagasan untuk memperbaiki kehidupan sosial,” ujarnya.
Selain itu, Gubernur Melki juga menyoroti pentingnya seni sebagai medium komunikasi gagasan kritis, termasuk melalui musik, film, dan karya budaya yang mampu menyampaikan pesan kemanusiaan dan kebebasan berpikir.
Gubernur Melki juga menyampaikan proficiat atas pengukuhan Prof. Dr. Otto Gusti Ndagong Madung sebagai Guru Besar Filsafat Politik.
“Atas nama Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, saya menyampaikan selamat dan proficiat atas pengukuhan ini,” ujarnya.
Ia berharap amanah akademik tersebut semakin memperkuat kontribusi Prof. Otto dalam membangun ruang publik yang rasional, inklusif, dan berkeadilan, baik di tingkat nasional maupun dalam konteks pembangunan di NTT.
"Kami juga memberikan apresiasi tinggi kepada Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero sebagai ruang intelektual penting dalam tradisi pemikiran kritis dan refleksi filosofis di Indonesia. IFTK Ledalero tidak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan tinggi, tetapi juga sebagai komunitas akademik yang konsisten mengembangkan dialog antara iman, ilmu, dan realitas sosial,"tutupnya.
Sementara itu, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XV, Prof. Dr. Adrianus Amheka, menyebut pengukuhan guru besar merupakan tradisi akademik penting untuk menjaga marwah dan kewibawaan pendidikan tinggi.
“Pengukuhan guru besar adalah bentuk pertanggungjawaban akademik melalui orasi ilmiah, sekaligus menjaga kehormatan kampus,” katanya.