Ia mengungkapkan, dari sekitar 3.000 dosen aktif di NTT, jumlah profesor di perguruan tinggi swasta masih di bawah 1 persen, jauh dari ideal minimal 10 persen.
“Kalau mutu kita optimal, minimal 10 persen atau sekitar 300 profesor. Saat ini belum sampai 1 persen,” ujarnya.
Adrianus menilai kehadiran Prof. Otto sebagai guru besar filsafat politik memiliki nilai strategis karena bidang tersebut masih sangat terbatas, baik di tingkat nasional maupun global.
“Ahli filsafat politik yang lengkap secara akademik tidak banyak, bahkan di dunia. Ini capaian besar bagi NTT dan Indonesia,” katanya.
Ia menambahkan, profesor tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga pemimpin akademik yang harus menghasilkan inovasi, riset berdampak, serta menjadi panutan dalam integritas dan etika akademik.
“Profesor harus mentransformasikan ilmu, mengembangkan, dan menyebarluaskan pengetahuan untuk kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Adrianus juga menyampaikan bahwa pemerintah melalui Kementerian telah membuka ruang yang lebih luas bagi dosen, termasuk di perguruan tinggi swasta, untuk mengembangkan karier akademik tanpa perbedaan dengan dosen ASN.
Di akhir sambutannya, ia mengingatkan pentingnya efisiensi energi di lingkungan perguruan tinggi melalui pengelolaan operasional yang lebih bijak.
Baca Juga: Perpustakaan Bertransformasi: Dari Pusat Referensi ke Ruang Validasi di Era AI
Wakil Rektor IFTK Ledalero, Dr. Yohanes Hans Monteiro, menegaskan bahwa capaian Prof. Otto merupakan hasil konsistensi dalam membangun budaya akademik, termasuk disiplin dalam pengisian beban kerja dosen (BKD), penelitian, dan publikasi ilmiah.
“Menjadi profesor tidak mudah. Harus setia mengajar, aktif meneliti, dan produktif menulis di jurnal bereputasi,” ujarnya.
Ia menyebut dorongan kuat yang dibangun dalam internal kampus telah meningkatkan jumlah publikasi ilmiah dan akses dana penelitian, meskipun masih banyak dosen yang berada pada jenjang awal karier akademik.
Hans Monteiro berharap pengukuhan ini menjadi motivasi bagi dosen lain untuk meningkatkan kualitas akademik, bukan sekadar mengejar gelar, tetapi demi keberlanjutan institusi.
“Profesor harus menjadi teladan, menjaga tradisi ilmiah, dan terus menghasilkan karya yang berdampak bagi masyarakat,” katanya.