Selain itu, sekitar 1.074 hektare lahan lainnya masih terancam kekeringan.
Meski menghadapi kendala air dan keterlambatan pengolahan lahan, produksi gabah kering panen (GKP) Karawang hingga akhir Agustus tercatat mencapai 955.951 ton, atau sekitar 67,8 persen dari target tahunan sebesar 1,418 juta ton.
Pemerintah dan petani kini berupaya mempertahankan produksi agar ancaman kekeringan tidak berkembang menjadi puso atau gagal panen secara luas.
Baca Juga: Kabar Baik Pejuang NIP! Pemerintah Siapkan 139 Ribu Formasi CPNS Guru pada 2027
Bekasi Ikut Tertekan
Kabupaten Bekasi juga tidak luput dari dampak kemarau panjang.
Sekitar 600 hektare sawah yang telah ditanami terdampak kekeringan di delapan kecamatan, yakni Babelan, Sukawangi, Tambelang, Sukakarya, Karangbahagia, Bojongmangu, Cibarusah, dan Serangbaru.
Pemerintah daerah masih berupaya mempertahankan target produksi sekitar 500.000 ton padi tahun ini.
Salah satu cara yang dilakukan adalah mempercepat pengairan sawah menggunakan mesin pompa.
Namun, upaya tersebut tidak selalu murah bagi petani.
Pompa Menyala Siang-Malam, Solar Ikut Terkuras
Di Karang Patri, Kecamatan Pebayuran, Kabupaten Bekasi, petani harus bekerja ekstra keras untuk mempertahankan tanaman padi mereka.
Mesin pompa air bahkan harus dinyalakan siang dan malam selama sekitar 40 hari berturut-turut untuk mengairi sekitar 80 hektare sawah.
Upaya tersebut membutuhkan bahan bakar dalam jumlah besar. Petani dilaporkan menghabiskan hingga 300 liter solar, sehingga biaya produksi ikut membengkak.
Situasi ini menggambarkan bahwa persoalan kekeringan bukan hanya menyangkut ketersediaan air, tetapi juga berimbas langsung terhadap biaya yang harus ditanggung petani.
Mesin Pompa hingga Sumur Bor Dikerahkan
Untuk mengurangi risiko gagal panen, pemerintah daerah bersama petani mengandalkan sejumlah langkah penyelamatan.
Di Karawang dan Subang, mesin pompa berukuran sekitar 3 hingga 6 inci dikirim ke sejumlah titik persawahan yang mengalami kekeringan.