IDENUSANTARA.COM - Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santu Paulus Ruteng akhirnya angkat bicara mengenai kasus dugaan kekerasan seksual yang melibatkan seorang dosen sekaligus imam Katolik berinisial ILS.
Melalui konferensi pers resmi pada Kamis (27/11), kampus menegaskan bahwa mereka telah mengambil langkah tegas, termasuk memecat ILS setelah menerima laporan profesional dari psikolog kampus yang mendampingi korban.
Kasus ini pertama kali mencuat setelah diberitakan oleh media Floresa.co pada Rabu (26/11) yang mengungkap kisah Christina (bukan nama sebenarnya), seorang mahasiswi Unika Ruteng yang mengaku menjadi korban pelecehan oleh ILS. Pemberitaan tersebut memicu perhatian publik karena menyangkut sosok imam Katolik lansia yang dihormati, sekaligus dosen aktif di institusi pendidikan milik Keuskupan Ruteng itu.
Baca Juga: Warga di Kota Ende Keluhkan Jalan Nasional KM 4 yang Penuh Lubang
Awal Mula: Pesan "My Sweet Honey" dari Sosok yang Dihormati
Christina mengenang masa ketika pesan-pesan tak pantas itu mulai masuk ke ponselnya. Awalnya berupa sapaan yang terkesan lembut namun melewati batas etika seorang pendidik dan rohaniwan: "my sweet honey," "my darling," "kekasihku forever," "sayang."
Kala itu Christina masih berada di semester awal, penuh hormat dan segan terhadap sosok ILS. Selain sebagai dosen, ILS adalah imam Katolik yang kerap ia dengarkan homilinya di gereja. Yang membuat situasi semakin rumit, ILS juga masih memiliki hubungan keluarga dengannya dan turut membantu membiayai kuliahnya. Christina memanggilnya opa.
Kombinasi antara relasi kuasa, ikatan keluarga, status religius, serta ketergantungan finansial membuat Christina memilih bungkam. Ia tak pernah membalas pesan itu. Ia hanya mengalihkan pembicaraan ke topik kuliah, berharap situasi mereda.
Namun diamnya korban justru membuat ILS merasa semakin berani.
"Mungkin karena dia merasa tidak ada perlawanan,” kata Christina, seperti dikutip dari media Floresa.co.
Memuncak Menjadi Kekerasan Fisik
Situasi berubah drastis pada awal 2025 ketika ILS mulai melakukan tindakan fisik. Christina mengaku mengalami pelecehan berupa pegangan tangan, pelukan, hingga upaya mencium bibirnya.
"Saya bilang, tidak boleh cium saya. Kalau mau cium, minimal izin dulu," kenangnya. Meski mencoba menolak, posisi Christina tetap tak seimbang. Ia bingung dan takut, terlebih karena sosok yang ia tolak adalah figur religius yang dihormatinya sejak kecil.
Respons ILS atas penolakan Christina justru membuat keadaan semakin gelap. "Dia ketawa. Dia malah bilang, 'Ini sangat manusiawi, sayang.'"